Home » Berita » Dewan Pertanyakan Keberadaan KA Sukacita II

Dewan Pertanyakan Keberadaan KA Sukacita II

PALEMBANG – Pasca tabrakan dua kereta api angkutan batu bara yang terjadi (Minggu,19/2) di KM 339,6 km antara stasiun Simpang Penimur dan stasiun Niru di Simpang Air Limau, Kabupaten Muara Enim menimbulkan pertanyaan DPRD Sumsel.

Kasus Tabrakan Kereta Babaranjang Batubara

Ketua Komisi III DPRD Sumsel, HM Giri Ramadhan Kiemas mempertanyakan keberadaan kereta api angkutan batu bara Suka Cinta II yang mengangkut batu bara milik PT Bara Alam Utama (BAU) kemudian bertabrakan dengan kereta api babaranjang (batu bara rangkaian panjang) yang mengangkut batu bara milik PT Bukit Asam (PTBA) Tbk.

“Selama ini, DPRD hanya mengetahui dan mendapat informasi resmi bahwa PT Kereta Api Indonesia atau PT KAI di Sumatera Selatan hanya mengangkut batu bara milik PTBA ke Kertapati dan ke Lampung,” katanya.

Menurut anggota DPRD dari daerah pemilihan Muara Enim, kecelakaan kereta api yang menewaskan empat orang masinis dan asisten masinis telah membuka mata ada sesuatu yang harus dijelaskan direksi PT KAI.

“Tidak pernah ada penjelasan PT KAI ke DPRD bahwa selain mengangkut batu bara milik PTBA mereka juga mengangkut batu bara milik PT Bara Alam Utama. Selama ini angkutan batu bara perusahaan swasta di Sumsel hanya diangkut melalui transportasi jalan darat, bukan kereta api,” ujarnya.

Anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan ini melihat ada sejumlah kejanggalan dalam angkutan PT BA dari gerbong yang digunakan. Menurut Giri selama ini angkutan batu bara PTBA menggunakan gerbong khusus, demikian pula angkutan semen PT Semen Baturaja, angkutan bubur kertas PT TEL dan angkutan BBM PT Pertamina.

“Angkutan batu bara PT BAU yang tabrakan kemarin menggunakan peti kemas. Apakah ini sesuai dengan standar kelayakan untuk angkutan batu bara? “ katanya.

Sementara kecelakaan yang terjadi antara KA Babaranjang (Batu bara rangkaian panjang) PTBA dengan KA Suka Cinta yang menurut Giri bisa saja terjadi akibat berapa faktor.

“Mungkin juga karena pengaturan lalu lintas perjalanan kereta. Selama ini pada jalur tersebut angkutan batu bara yang melintas hanya KA Babaranjang PTBA sekarang bertambah dengan KA batu bara PT BAU. Apakah petugas PTKA lupa kalau ada tambahan satu rangkaian angkutan lagi di jalur itu? Ini juga harus diusut,” kata Giri.

Sementara itu Humas PT KAI Divre (Divisi Regional) III Sumatera bagian Selatan (Sumsel) Jaka Jarkasih menjelaskan, angkutan batu bara milik PT BAU tersebut sudah berlangsung selama satu tahun. Batu bara diangkut dengan gerbong kontainer atau peti kemas.

Jaka juga menjelaskan tidak tahu berapa kontrak atau tarif angkut batu bara PT BAU setiap tonnya.

“Angkutan batu bara PT Bara Alam Utama diangkut dari Lahat menuju Kertapati. Setiap hari jumlah gerbong yang ditarik sebanyak 16 gerbong,” katanya. (Morino)

Beri komentar