Home » Berita » Mahasiswa Harus Halau Paham Radikal dan Terorisme

Mahasiswa Harus Halau Paham Radikal dan Terorisme

Palembang, BP

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia terus melakukan gerakan pencegahan paham radikal dan terorisme.

Kali ini melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel menggandeng Mahasiswa dan Birokrasi Kampus melaksanakan sosialisasi dengan tema ‘Dialog Pelibatan Mahasiswa dan Birokrasi Kampus dalam Upaya Membangun Sinergitas dalam Pencegahan Paham Radikal-Terorisme’ di Gedung Grand Atyasa Palembang, Rabu (5/4).

Kepala Kesbangpol dan Linmas Sumsel Richard Cahyadi memastikan, selama ini Sumsel aman dan kondusif dari tindakan anarkis.

Dia berharap masyarakat Sumsel ikut menjaga situasi kondusif di Sumsel, apalagi 2018 Sumsel akan menghadapi Asian Games 2018 sehingga suasana aman dan kondusif dibutuhkan.

Sedangkan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Dr Irfan Idris menilai diperlukan penguatan nilai-nilai budaya daerah untuk merajut perdamaian perlu dipelihara dalam dunia kampus guna membangun perdamaian di daerah, untuk ini BNPT mengharapkan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam menjaga perdamaian, khususnya menghalau paham radikal-terorisme di perguruan tinggi.

Ia menjelaskan, dalam pencegahan paham radikal dan terorisme ini, harus sampai pada akar masalahnya.

Walaupun sangat sulit tapi tetap harus dideteksi sejak dini, mulai dari pelajar dan mahasiswa yang menjadi salah satu sasaran pemahaman ini.

“Saya sayangkan jika ada akademisi tidak percaya jika teroris ini ada dan bergerak. Justru ini adalah hasil konfirasi, jika berpikir demikian justru mereka (teroris) jadi leluasa bergerak karena dikira hasil konfirasi,” ungkapnya.

“Maka dari itu memang buttuh sinergitas semua elemen untuk mencegah ini,” katanya.

Dalam dialog yang dipandu Moderator Dr M Adil MA tersebut dengan narasumber pertama, Prof Drs Sirozi, Phd yang juga Rektor UIN Raden Fatah Palembang ini menyoroti bahwa perlu tindakan preventif (pencegahan), kuratiof dan preentif dalam menanggulangi paham ini masuk ke kampus.

Sebab, mahasiswa memliki latar belakang berbeda dan cara pemahaman berbeda, sehingga menjadi sasaran menyebarkan pemahaman ini.

Sedangkan Dr Cholil Nafis, MA, PhD yang juga Ketua Lembaga Dakwah MUI lebih menyoroti konsep pemahaman bernegara dalam agama. Menurutnya Indonesia sudah final sehingga tidak harus mendirikan khilafah atau negara Islam.

Terpisah, Sekretaris FKPT Sumsel, Dr Periansya MM menerangkan, kegiatan ini bertujuan untuk membangun sinergitas seluruh lapisan masyarakat, khususnya mahasiswa dalam menghalau paham radikal-terorisme di di lingkungan kampus. Oosk

Beri komentar