Home » Berita » Sebuah Prinsip Menyatu Dengan Alam

Sebuah Prinsip Menyatu Dengan Alam

acara HLHS tingkat Provinsi Sumsel di Halaman Plaza Parkir Depan Stadion Utama Jakabaring Sport City (JSC) (Foto : Humas)

PALEMBANG – Sehubungan dengan peringatan Hari Lingkungan  Hidup Sedunia (HLHS) yang jatuh pada tanggal 5 Juni lalu, hari ini Sumatera Selatan (Sumsel) melangsungkan acara HLHS tingkat Provinsi Sumsel di Halaman Plaza Parkir Depan Stadion Utama Jakabaring Sport City (JSC), Rabu (12/07)

Badan Lingkungan Hidup Dunia, atau United Nations Environment Programme (UNEP) telah menetapkan tema  Hari Lingkungan Hidup 2017 yaitu ”Connecting People to Nature”  atau ”Menyatu dengan Alam”.

Dalam kesempatan ini Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin membacakan pidato dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar M.Sc dimana pidatonya berisikan, saat-saat ini Indonesia dihadapkan pada tantangan yang nyata dalam hal perlindungan lingkungan dan alam.

Dimana dalam menata hubungan alam dan manusia bukan hanya sekedar pengelolaan sumberdaya alam untuk tujuan profit manusia, apalagi bila profit itu hanya untuk segelintir manusia saja.

Lingkungan dan alam Indonesia, membutuhkan perlindungan mengingat lingkungan dan alam memiliki arti sangat besar dan bisa dikatakan menentukan hidup manusia, karena fungsi- fungsi alam yang bekerja juga bagi manusia atau sekaligus manusia menjadi bagian dalam landscpae ecology alam tersebut.

Tema “Menyatu dengan Alam” mengingatkan pentingnya akan kewajiban memanfaatkan kekayaan alam karunia Tuhan YME dengan sebaik-baiknya. Berbagai upaya antara lain menjaga siklus air, mengendalikan pencemaran udara, pemanfaatan panas bumi, serta menikmati keindahan alam untuk obyek wisata.

Semuanya tersedia dalam jumlah melimpah di alam namun dapat habis bahkan hilang jika kondisi alamnya rusak atau terganggu. Sebagai contoh, air yang dihasilkan dari proses siklus hidrologi di alam sangat tergantung dari keberadaan ekosistem hutan.

Lanjut Alex , manusia dan alam adalah satu, tidak bisa dipisahkan dari alam. Oleh karena itu terhadap alam, manusia harus jujur mempersepsikan dan memperlakukannya, juga harus menjaga dari berbagai ancaman, harus mengelola dengan prinsip perlindungan. Kemudian untuk menata bersama sekarang adalah kembalikan fungsi alam hutan, lakukan tata kelola hutan yang seharusnya.

Begitupun, rakyat harus pulihkan sungai-sungai dari pencemaran yang sudah cukup berat. Dan banyak lagi kondisi lingkungan yang harus diberikan perlakuan dengan corrective action. Caranya, dengan satu nafaskan antara perlindungan dan pengelolaan serta jangan dikotomikan investasi dan lingkungan.

Rusaknya ekosistem hutan atau berkurangnya pepohonan akan mengubah siklus yang terjadi dan berdampak kepada menurunnya jumlah ketersediaan air baik di permukaan maupun di dalam tanah. Demikian halnya dengan wisata alam, fenomena dan keindahan alam yang merupakan hasil proses alam itu akan hilang jika ekosistem terganggu.

Dalam kesempatan yang sama Alex juga menegaskan, memang bukan hanya sekedar mencegah kebakaran hutan dan lahan saja, akan tetapi ada hal yang harus disiasati bahkan menjadi perhatian bukan hanya Pemerintah Provinsi Sumsel saja namun seluruh rakyat Sumsel harus mengetahui masalah yang terbesar dihadapi Sumsel dalam waktu dekat ini, adalah kekurangan sumber air baku untuk air minum.

Ini disebabkan karena inklusif air laut telah sampai di aliran sungai Benteng Kuto Besak dan terus mengalir hingga ulu, kalau hal ini terus dibiarkan, Alex mengatakan, tidak dapat memperbaiki daerah tangkapan air di ulu.

“Alhamdulillah karhutlah itu sudah bisa kita atasi, buktinya 2016 tidak terjadi karhutlah, tetapi harus tetap dijaga terus. Namun bukan saja usaha jangan terbakar lagi tapi bagaimana menjaga keseimbangan antara kita mengambil dengan memberi kepada alam. Isu yang lebih berat lagi adalah kelangkaan air baku. Banyak yang harus kita jaga, bukan hanya karhutlah saja, tetapi juga jangan mengotori sungai, mencegah banjir, dan sebagainya,” tegas Alex mengingatkan hadirin

Masih Alex, Inti dari pidato Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar M.Sc dapat disimpulkan mencintai alam harus adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam.

“Ayo mari kita jaga alam kita, menyatu dengan alam, kita harus memperlakukan alam dengan baik, jangan hanya mengambil tetapi juga mengembalikan, kalau kita mengambil sumber air bersih, harus diperhatikan supaya ketersediaan air ini tidak berkurang . Nah ini usaha-usaha yang harus kita lakukan, dan ini tidak main-main,” ajaknya. (REL/HMS)

Beri komentar