Home » Berita » PROGRAM KESEHATAN DAN GIZI BERBASIS MAYARAKAT

PROGRAM KESEHATAN DAN GIZI BERBASIS MAYARAKAT

Penanganan kesehatan sejak dini dan antisipasi adanya gizi buruk di Kabupaten Banyuasin terus dilakukan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Mas Agus Hakim, hingga kecamatan di Banyuasin masih terpilih menjadi fokus lokasi penganan stunting (kurang gizi) atau masalah kurang gizi kronis.

“Kalau dilihat dari kondisi alamnya, anak perairan kecil kemungkinan akan kurang gizi. Karena disana banyak ikan juga sayuran. Tapi pola makan masyarakat yang sudah beralih ke makan-makanan yang cepat saji yang membuat ibu hamil dan anak-anak tidak standar dalam gizi,” katanya Rabu (9/8).

Selain itu, air yang dikonsumsi dan pola hidup bersih dan sehat juga merupakan faktor penentu gizi masyarakat.

“Kami berharap dengan program kesehatan dan gizi berbasis masyarakat ini, yang melibatkan banyak steak holder dapat menekan angka Stanting di Banyuasin,” ucapnya.

Sementara itu Yeni Rosaliani Isi, Ketua Women Crisis Center Palembang menambahkan, persoalan stunting (kurang gizi) bukan hanya berdampak pada tinggi badan anak, tapi juga mempengaruhi kecerdasan, prestasi dan kreatifitas anak. “Ini perlu segera diatasi, karena ini masalah generasi penerus bangsa Indonesia kedepan. Kalau anak-anak nya sekarang kurang sehat, bagaimana nasib bangsa ini ke depannya nanti,” jelasnya.

Melalui program pendampingan ini, memberikan edukasi kepada masyarakat terutama ibu hamil agak melengkapi gizi mulai dari masa kehamilan sampai 1000 hari pertama. Asupan asi eksklusif selama enam bulan juga harus dijaga.

“Prilaku hidup sehat inilah yang harus kita kampanyekan dan kita budaya kan,” katanya.

Dia menambahkan sekarang ini Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi `stunting` atau memiliki masalah kurang gizi kronis, masalah ini perlu diatasi secara bersama oleh kepala daerah terutama yang memiliki angka prevalensi stunting yang cukup tinggi.

Riset kesehatan dasar pada 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 sebesar 35,6 persen.

Berdasarkan hasil riset tersebut berarti pertumbuhan tidak maksimal diderita oleh sekitar sembilan juta anak Indonesia atau satu dari tiga anak Indonesia.

“Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi dari negara-negara lain Asia Tenggara seperti Myanmar 35 persen, Vietnam 23 persen dan Thailand 16 persen. Semua harus terlibat untuk menyikapi masalah ini,” .[RMOL]

Beri komentar