Home » Berita » Bayi-bayi di 13 Ulu Palembang Terancam Jadi Generasi Stanting

Bayi-bayi di 13 Ulu Palembang Terancam Jadi Generasi Stanting

Palembang, BP–Sebanyak 50 pemukiman padat penduduk di Kelurahan 13 Ulu Palembang terancam generasi mengidap stanting atau lebih dikenal dengan kondisi di mana bayi tumbuh lebih pendek dari standar usianya. Apalagi, berdasarkan data Dinas Kesehatan, pengidap stanting di Kota Palembang mencapai 8,8 persen dari balita yang ada.

Selain gizi buruk menjadi dalih lahirnya bayi stanting, perilaku hidup tak sehat seperti jamban tak sehat juga menjadi pemicu penyakit ini. Jamban tak sehat akan berdampak pada sanitasi dan air kotor. Sehingga, baik ibu hamil maupun bayi, yang baru lahir akan terkontaminasi secara kesehatan.

Parahnya, selain belum disentuh bantuan pembangunan jamban lantaran masyarakat prasejahtera, wilayah tersebut selama puluhan tahun tak mendapat bantuan CSR dari BUMN atau perusahaan di Palembang.

Kondisi ini diperparah dengan ketidaktahuan dan abainya masyarakat serta kurangnya kepedulian pemerintah terkait ketersediaan jamban bagi masyarakat, terutama kalangan prasejahtera.

Dinas Kesehatan Sumsel menuding banyaknya pengidap stanting salah satunya pemerintah kota kurang peduli terhadap ketersediaan jamban. Apalagi, berdasarkan data IMA World Health bahwa 9 juta atau sepertiga bayi di Indonesia terkena stanting.

“Sejak 1991 tinggal di sini. Pakai jamban kalau mandi sama BAB,” ujar Nazula, salah satu warga 13 Ulu Palembang saat dibincangi BeritaPagi, Selasa (3/10).

Bapak yang memiliki menantu yang baru melahirkan dengan kondisi stanting dua bulan lalu dengan panjang 35 cm ini mengatakan, sedikitnya 50 warga yang tinggal di Jalan Azhari Lorong Masawa, Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II Palembang menggunakan jamban ‘cemplung’ sebagai tempat pembuangan tinja dan air seni. Bahkan termasuk mencuci dan memasak.

“Mau buat wc semen kalau panggung butuh banyak uang. Coba kalau ada bantuan pemerintah,” harap bapak 11 anak ini.

Ia mengaku kadang tak tahan dengan air yang buat gatal dan diare. Tapi kondisi ekonominya yang kurang mampu membuat keluarga dan boleh jadi masyarakat sekitar masih menggunakan jamban ‘cemplung’. “Sampai tak enak, kita lagi masak ada yang BAB dan yang lainnya. Tapi mau gimana lagi,” keluhnya.

Kabid Kesmas Dinkes Sumsel H Fery Fahrizal mengatakan, jamban yang tidak sehat adalah salah satu pemicu penyakit stanting pada ibu hamil dan dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi. Jamban yang tak sehat akan mengakibatkan sakit diare, gatal-gatal, dan gangguan kesehatan lainnya.

“Apalagi kalau yang tinggal itu ibu hamil atau bayi yang baru lahir. Nah, jamban itu kalau warga tak kuat buat mandiri, itu tugas pemerintah terkait,” tegasnya.

Ia mencontohkan Kabupaten Musi Rawas Utara. Warga di sana melakukan arisan untuk membangun jamban dengan harga murah dan dinas terkait yang menambah kekurangan biayanya.

“Oleh karena itu, imbau masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Kita bisa lihat kalau bayi lahir dengan tinggi kurang dari 48 cm, maka bayi tersebut terkena stanting,” ujarnya.

Pengaruh buruk jamban tak sehat terhadap penyakit stanting juga diperkuat oleh dr Adhitia, SpA. Ia menyatakan jamban memang secara tidak langsung berpengaruh bagi kesehatan ibu hamil atau bayi. Efek berkelanjutan perilaku hidup tak sehat dengan kondisi jamban tersebut akan mempertinggi potensi mengidap stanting.

“Jadi pengaruhnya ke ibu hamil, karena kalau jamban tak sehat maka ibu hamil biasanya akan sering diare, sakit-sakitan karena infeksi sanitasi yang pada akhirnya berdampak pada janin dan bisa melahirkan stanting,” jelasnya.

Makanya sebisa mungkin, sambung Adhitia, ibu hamil dan bayi yang baru lahir hingga 1.000 hari masa kehidupan pertama harus berada di lingkungan sehat dengan asupan gizi yang cukup.

Sementara itu, M Ridwan Hasan, Leadher dari IMA World Health dalam acara orientasi jurnalis keterpaduan dan peran media Gerakan Kampanye Gizi Nasional (GKN) di Swarna Dwipa Palembang, Selasa (03/10) menyebutkan, stanting adalah permasalahan yang mengancam anak bangsa.

“Ini adalah salah satu masalah yang mengancam bangsa, Stanting akan berdampak pada saat mereka dewasa baik secara produktifitas pendapatan maupun lemahnya kesehatan,” ujar Ridwan.

Lanjut dia, kondisi stanting yang menahun biasanya menyerang organ vital, mulai dari otak, jantung dan pankreas. Banyak penelitian bahwa IQ anak yang stanting akan lebih rendah dari pada bayi yang awalnya tumbuh standar.

Sebagai referensi, para ahli meneliti bahwa jalan hidup dari bayi sampai dewasa ditemukan bahwa pendapatan orang yang bayinya mengalami stanting 20 persen lebih kecil daripada yang bayinya tumbuh standar.

“Akibat lain adalah daya tahan tubuhnya lemah, seperti jantung, obesitas, tekanan darah tinggi dan ini menjadi beban ekonomi negara. Akibatnya BPJS kita terus meningkat hingga Rp7 triliun,” tukasnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sumsel, angka pengidap stanting tertinggi ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir 32,9 persen dari total bayi yang ada, sedangkan terendah diduduki Kabupaten Empatlawang. #sug

Beri komentar