Home » Berita » Tetap Setia Geluti Bisnis Ikan Hias

Tetap Setia Geluti Bisnis Ikan Hias

PALEMBANG, BP, memasuki area Jalan Beringin Janggut, Pasar 16 Ilir, Anda akan disambut dengan suasana khas pasar ikan hias. Di sisi kiri jalan ini terdapat toko-toko dan lapak-lapak yang menjual ikan hias. Aquarium, botol, dan baskom untuk menampung aneka ikan hias berjejer rapi milik pedagang kaki lima (PKL), mulai dari ikan cupang, ikan koi,
arwana, guppy hingga ikan belida.

Terdapat pula pedagang lain yang menjajakan aneka perlengkapan dan makanan ikan hias seperti anak ikan gabus, kutu air, udang, cacing, kelabang, dan pelet. Ketika BeritaPagi, menyambangi lokasi ini terlihat pemandangan yang khas dari pasar ikan hias ini, mulai dari aromanya yang amis hingga lokasi lapaknya yang basah dan becek.

Kesibukan mulai terasa di pasar ikan hias ini sekitar pukul 09.00. Pedagang tampak sibuk melayani calon pembeli yang ingin mencari ikan kesayangan maupun makanan ikan untuk ikan hias peliharaannya di rumah. Di emperan jalan ini terlihat seorang laki-laki tua ‘berseragam’ lengkap mengenakan topi dan sepatu boot sedang duduk menunggu calon pembeli.

Namanya Ardi Saputra. Ia selama 39 tahun berprofesi sebagai pedagang ikan hias dan menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut. Di usianya yang sudah tua, Ardi tetap setia menggeluti bisnis ikan hias. Semangat bekerja tak pernah pudar demi mengumpulkan rupiah untuk istri dan lima anaknya.

Pria kelahiran Cirebon tahun 1953 ini tidak pernah bosan menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak tahun 1978. Setiap hari lelaki berusia 64 tahun ini berangkat mulai pukul 08.00 dengan mengayuh sepeda dari Sianjur, Jalan Bambang Utoyo menuju tempat usahanya berupa lapak kecil di pinggir Jalan Beringin Janggut kemudian pulang sebelum ashar.

Memang keuntungan dari berdagang ikan hias ini, menurut dia, tak seberapa. Namun ia tetap bersyukur, apalagi anak-anaknya sudah ada yang berhasil mengenyam bangku kuliah dari hasil usaha ini. Senangnya lagi, ia bisa membeli sepetak tanah ukuran 9×9 meter seharga Rp81 ribu waktu itu yang kemudian secara bertahap didirikan lah bangunan rumah sebagai tempat tinggalnya saat ini.

Ardi bercerita sebelum menekuni usaha ikan hias, awalnya, sekitar tahun 1973 berprofesi sebagai penjual bubur kacang hijau keliling dan mangkal di STM 3 (kawasan Rama Kasih, Lemabang). Seiring umur terus bertambah dan tenaga mulai berkurang membuat Ardi cepat lelah apalagi berdagang dengan cara memikul.

Akhirnya Ardi memutuskan untuk beralih profesi sebagai pedagang ikan hias. “Dulu, sekitar tahun 1978, masih sedikit orang yang berjualan ikan hias. Kalau dihitung hanya 10 orang menempati usaha dagangan ikan hias di jalan ini,” katanya.

Bermodal uang Rp50 ribu waktu itu, pria yang mengaku merantau ke Palembang sejak tahun 1969 ini nekad mengadu nasib berjualan ikan hias. Modal itu digunakan Ardi untuk membeli aquarium dan beberapa jenis ikan hias. “Dulu harganya masih murah jadi sudah bisa membuka usaha ikan hias,” ujarnya.

Ia mengaku, tertarik buka usaha ini karena berjualan ikan hias tidak banyak menguras tenaga. Cukup duduk-duduk sambil nunggu pembeli. Disinggung soal pendapatan dari hasil usaha ini, menurut Ardi cukup lumayan. Tapi bila dibandingkan dengan tahun lalu, sekitar tahun 2000-an ketika tren ikan louhan, sehari bisa mengantungi uang Rp500 ribu dari berjualan makanan ikan louhan seperti cacing merah.

“Kini pendapatan sudah mulai berkurang karena pesaing juga sudah banyak,” ujarnya sambil mengantungi ikan ke dalam plastik. Dikatakan Ardi, teman-temannya satu profesi pada waktu itu, tidak ada lagi yang berjualan karena sudah meninggal.

Rata-rata pedagang ikan hias saat ini muka-muka baru. Hanya dirinya yang saat ini bertahan. “Alhamdulillah masih bisa berjualan. Usaha ini tetap dijalankan di sisa usia,” katanya. Ia membeli stok ikan hias dari agen-agen yang berada di kawasan Sianjur. Ikan hias yang dijualnya saat ini terbilang murah meriah.

Satu kantung berisi enam jenis ikan hias seperti ikan pedang-pedang, ikan sepat Bogor, ikan golden black, dan melati. Sekantung ikan hias dibanderol dengan harga
Rp10 ribu. “Jadilah untung sedikit yang penting laku,” ucap suami Fatimah ini
mengakhir perbincangan.Omiko marlizon.

Beri komentar