Home » Berita » Sketsa Sejarah Kapten A Rivai - Trijaya FM Palembang

Sketsa Sejarah Kapten A Rivai

 

BP/DUDY OSKANDAR
Vebri Alintani

Palembang, BP

Nama-nama jalan yang ada di kota Palembang sebagian menggunakan nama-nama pahlawan namun tidak banyak yang tahu sejarahnya dan asal usulnya.

Salah satunya nama jalan Kapten A Rivai. Banyak masyarakat tidak tahu siapa Kapten A Rivai,  “Untuk itu saya akan membacakan sketsa sejarah hari-hari terakhir sang pahlawan,” kata Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Alintani di pembukaan acara Lomba Cerdas Cermat (LCC) sejarah yang diadakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Sumatera Selatan, yang digelar 4 sampai 5 September, dengan mengangkat tema menumbuh kembangkan nilai-nilai Kearifan Lokal, pada generasi muda untuk menghidupkan jati diri bangsa di gelar di SMAN Sumsel di Jakabaring, Palembang, Selasa (4/9).

Menurut Vebri menjelaskan juga soal perang lima hari lima malam dimana Kapten A Rivai gugur tanggal 3 Januari 1947.

“ Tahun 1947 dalam sejarah disebut agresi Belanda ke II, kita sama tahu tahun 1945 , Belanda membonceng sekutu kembali ke Indonesia setelah proklamasi dan 14 Oktober 1946 gencatan senjata antara Sekutu dan lndonesia., “ katanya.

Lalu 24 Oktober 1946 Sekutu meninggalkan Palembang dan 15 November1946. Persetujuan Linggarjati, oleh Belanda menyebutnya menjadi persetujuan Langgar janji.

Dalam perjanjian Linggar Jati itu, menurut Vebri ada dua point yang intinya, Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura dan Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Akhir November 1946, Panglima Komandan Sumatera Mayor Jenderal Suharjo Harjo

Wardoyo (sekarang menjadi nama jalan di seberang Ulu , Palembang ) berpidato di RRI Palembang yang ditujukan kepada seluruh TRI di Palembang, Padang dan Medan agar selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Pidato Jenderal Suharjo ini dianggap Belanda sebagai provokasi untuk menyerang.

“28 Desember 1946, belanda melanggar kesepakatan, memancing kemarahan dengan menembak seorang Laskar Napindo bernama Dungcik sewaktu melewati pos pasukan Belanda di depan Benteng. Pada pukul 21.30, di hari ini juga Belanda melanggar garis demarkasi yang disepakati. dengan mengendarai 2 Jeep yang berisi para serdadu. melaju dari arah Talang semut, melewati Jalan Merdeka, Jalan Tengkuruk menuju rumah sakit Charitas melepaskan tembakan secara membabi buta. Hari itu juga, Lettu A. Rivai ketika sedang mengendarai sepeda motor Harley di dekat Charitas ditembak oleh Belanda dengan luka di bahu bagian atas,” katanya.

Lalu Vebri membacakan tulisan tentang hari-hari terakhir A Rivai, menurut Vebri ulah Belanda yang kembali ingin menjajah betui-betul telah menyulut emosi bangsa Indonesa. Betapa tidak. Sudan terlalu lama Belanda menindas. memecah-belah. menipu-daya, dan menghisap sumber daya Indonesia. Hingga pada puncaknya. setelah banyak pengorbanan tenaga, hana bahkan ribuan nyawa manusia, hari kemerdekaan yang diidam-idamkan itu pun tba pada 17 Agutus 1945. Masih terngiang suara Bung Karno dengan lantang membacakan proklamasi, Ialu diikuti dengan gegap gempita, teriakan kemerdekaan di seluruh penjuru tanah air: merdeka, merdeka, merdeka, merdeka. merdeka….

“Kata-kata ‘merdeka” itu telah menjelma menjadi mantera keberanian bagi jiwa-jiwa yang mencimai Republik ini, sekali Merdeka tetap Merdeka. Begitu pula yang terbentuk dalam setiap satn‘a seperti Lettu A Rivai. seorang komandan yang bertugas di wilayah Sungai Jeruju,” katanya.

Hari itu 28 Desember 1946, menurut Vebri, Lettu A Rivai dengan sepeda motornya memeriksa keadaan pasukan di jalan Pagaralam, sekitar kaki bukit Charitas. Ketika itu, sedang terjadi kontak senjata antara Belanda yang menguasai Bukit Charitas dengan para Tentara Republik Indonesia yang dibantu oleh Tentara Kemanan Rakyat.

Tak dapat ditolak, malang menimpa Rivai, anak pangeran Harun yang berasal dan‘ Dusun Cempaka ini. Sebutir peluru menembus bagian bahu kanannya, dan dia pun terkapar. Untunglah, peristiwa itu disaksikan beberapa orang pasukan yang segera membopongnya ke Klinik dr Ibnu Sutowo yang berada di jalan Dempo.

Setelah lima hari dalam perawatan, terdengar sangat jelas oleh A Rivai; suara tembakan bergemuruh di luar klinik, seakan ingin meluluhlantakkan bumi Sriwijaya ini.

“Memang demikianlah adannya. sejak 1 Januari 1947, perang kota telah dimulai. Menurut kabar, perang dipicu oleh beberapa orang Belanda yang entah karena mabuk di malam tahun baru atau karena memang sengaja untuk memprovokasi, sekitar jam 11 siang keluar dari dalam Benteng Kuto Besak dengan kendaraan mobil menuju Charitas. Sejak darl Tengkuruk, mereka telah melepaskan tembakan-tembakan secara membabibuta. Di depan Masjid Agung tembakan Belanda dibalas oleh Letnan Ahmad Malaya. seorang warga Malaysia yang berpihak pada Republik. teriakan dan komando “siap: bersahut sambung menyambung dan diteruskan dari kampung ke kampung. Seluruh TRI. para pemuda dan barisan petahanan rakyat telah siap menghadapi segala kemungkinan,” katanya.

Hari itu menurut Vebri, 3 Januari‘ 1947, Lettu A Rivai sudah tak sabar ingin bergabung dengan pasukannya di Sungai Jeruju. Lalu, bersama Letda Azis yang baru satu malam dirawat di klinik yang sama, meski luka mereka belum sembuh. tapi mereka sudah tidak sabar bergabung kembali dengan pasukan. Mereke melarikan diri tanpa diketahui oleh perawat dan kepala rumah sakit.

“Seorang vandrig lmron yang dengan mengayuh becak telah mengantarkan mereka ke pasar Kuto. Azis diantar oleh anggota palang merah ke markas PMI terdekat, sedangkan Kapten A Rivai pergi menuju markas pasukannya di sungai Jeruju. Saat itu, markas sungai jeruju sedang diserang secara gencar. Hanya sempat beberapa saat dia memimpin. sebuah mortir meledak didekatnya, serpihan-serpihan mortir mengantam tubuhnya yang masih lemah. Dia pun terjatuh ke sungai. Besoknya. mayatnya mengapung di dekat pipa minyak milik Stanvac,” katanya.#osk

Beri komentar