Home » Berita » Kajian Raden Fatah Yang di Besarkan di Palembang Belum Utuh - Trijaya FM Palembang

Kajian Raden Fatah Yang di Besarkan di Palembang Belum Utuh


BP/IST
Suasana diskusi rebuan studi Melayu pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu UIN Raden Fatah, Palembang, Rabu (26/12).

Palembang, BP

Peneliti naskah Melayu Palembang, Drs. H. Mal An Abdullah, M.HI, menilai kajian mengenai Pendiri Kesultanan Demak yang di besarkan di Palembang Raden Fatah selama ini belum utuh.

“Sumber-sumber Palembang, baik berupa manuskrip maupun tradisi lisan, mempunyai posisi yang signifikan untuk menghasilkan kajian yang lebih utuh, melengkapi sumber-sumber  yang sudah dipelajari,” katanya dalam diskusi rebuan studi Melayu pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu UIN Raden Fatah, Palembang, Rabu (26/12).

Selama ini kajian Raden Fatah lebih banyak dari Jawa daripada dari Palembang, sehingga dengan diskusi ini maka sumber raden Fatah bisa di kaji dari sumber Palembang.

Sedangkan peneliti lain Ahmad Syukri  melihat,  Raden Fatah adalah seorang tokoh protagonis dalam sejarah perkembangan kerajaan Islam pertama di Jawa. Riwayat tokoh ini menghubungkan kosmos Majapahit, Tiongkok, Gresik, Palembang dan Turki. Raden Fatah adalah putra Raja Majapahit yang lahir dan besar di Palembang, dari ibu Tionghoa yang tinggal di Gresik dan mendapat legitimasi ekuasaan penguasa Demak sebagai bagian negara konfederasi Islam yang dipimpin oleh Turki.

Raden Fatah merupakan putra dr Raja Majapahit, Brawijaya V ( Bhre Kertabhumi) dengan seorang selir,  yang bernama Siu Ban Ci, Putri Tionghoa anak dari Syaikh Bantong, seorang ulama dan saudagar yang tinggal Gresik (sumber : Purwaka Caruban Nagari). Melihat riwayat selirnya putri seorang ulama, kuat dugaan bahwa Brawijaya V saat itu sudah Islam.

Istri Brawijaya V yang berasal dari Campa, Ratu Dwarawati cemburu terhadap Siu Ban Ci, maka Brawijaya V terpaksa menghijrahkan selir Tionghoa nya itu ke Palembang. Pada masa itu Palembang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit yang dipimpin oleh Putra Hyang Purwawisesa (Brawijaya III) yang bernama Ario Damar dengan gelar Adipati Palembang.

Ario Damar sendiri di Islamkan oleh Sunan Ampel, saat Sunan Ampel mampir selama beberapa bulan di Palembang. Nama Ario Damar berganti menjadi Ario Abdila atau Ario Dila. Siu Ban Ci hijrah ke Palembang dalam kondisi mengandung.

Raden Fatah lahir di Palembang pada tahun 1455. Setelah Raden Fatah lahir, Siu Ban Ci dinikahi oleh Ario Dila dan mendapatkan anak yg bernama Raden Kusen (Husein).

Saat kecil Raden Fatah diberi nama oleh Ario Dila sebagai Raden Hasan atau dikenal dengan Pangeran Jimbun. Selama kurang lebih 15 tahun di Palembang, Raden Fatah mendapatkan didikan ilmu kanuragan dan ilmu Agama yang mumpuni dari Ario Dila.

Jejak perjalanan hidup Raden Fatah di Palembang, masih bisa dijumpai dari beberapa makam dan kampung lama di daerah Pagar Batu, Lahat. Tiba saatnya Raden Fatah dan Raden Kusen meminta izin kepada Ario Dila untuk hijrah ke pulau Jawa dengan tujuan memperdalam ilmu agama Islam ke Sunan Ampel di Surabaya. Pada tahun 1477, dari Ampel, Raden Fatah menemui ayahnya, Brawijaya V.

Saat bertemu dengan anaknya, Brawijaya V sangat terharu karena perawakan dan raut muka Raden Fatah sangat mirip dengannya.

Raden Fatah mendapat gelar dan jabatan dari Kerajaan Majapahit dengan gelar Adipati Nata Praja yang berkuasa dan berkedudukan di Glagah Wangi Bintoro.

Kekuasaan Raden Fatah di Bintoro  mendapat dukungan para Wali di Pulau Jawa. Dewan Wali di Pulau Jawa memberikan legitimasi sakral kepada Raden Fatah sebagai penguasa kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang berkedudukan di Bintoro Demak pada tahun 1478 M dengan gelar Sultan Raden Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Pranotogomo.

Dalam Babad Tanah Jawi Raden Fatah  bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, sedangkan menurut Serat Pranitiradya, bergelar Sultan Syah Alam Akbar, dan dalam hikayat Banjar disebut Sultan Surya Alam.

Pada tahun 1479, legitimasi formal untuk Raden Fatah diberikan oleh Sultan Turki secara de facto dan de Jure mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, bagian konfederasi Kekhalifahan Turki Usmaniyah untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaaha illallah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau.

Adapun mengenai keruntuhan Kerajaan Majapahit, sulit dihubungkan secara langsung disebabkan oleh serangan Demak ke Majapahit. Pertama, karena Sunan Ampel melarang Raden Fatah berseteru dengan ayahnya Bhre Kertabhumi. Kedua, dalam prasasti Petak yang berkisah erita ini melahirkan pendapat kalau Majapahit runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan Girindrawardhana.

Sedangkan Habiburahman melihat ada dua versi  tentang masalah Raden Fatah yang pertama menurut agus sunyoto, dimana Raden Fatah atau Raden Hasan atau Randen Jim Bun yang dalam makna arti campa jim bun artinya kuat.

Masih menurut Sunyoto bahwa Raden Fatah anak dari Brawijaya V dan Ariodamar atau Ari Abdillah anak Brawijya III sedangkan dari versi silsilah raja-raja  Palembang dan tarekhnya naskah dari Raden Haji Abdull Habib bahwa Raden Fatah anak dari Brawijaya VII sedangkan Ariodamar anak Brawijaya V.

  “Dan semua itu dalam pengkajian kita bahas tidak ada konplik antara Raden Fatah dan Brawijaya ayahnya sendiri dalam perebutan tahta kerjaan Majapahit. Yang artinya semuanya baik dari Sunyoto maupun dari naskah Raden Haji Abdull Habib menjelaakan bahwa Brawijaya ayah dari Raden Fatah sudah Islam, itu di buktikan dari di minta kedatangan Raden Rahmat atau Sunan Ampel untuk  ke Majapahit guna meperbaiki ahlak memperdalam ajaran agama Islam masyarakat setempat.

Sedangkan Ketua lembaga naskah Melayu, UIN Raden Fatah Palembang Dr Muhammad Adil, MA mengatakan, yang menjadi nara sumber dalam kajian tersebut diantaranya Mal an Abdullah, Muhammad adil, Duski Ibrahim, Kms Ari Ari Panji, Masyhur, Umi Kalsum, Azim Amin, Ahmad Syukri, Muhammad Daud, Habiburahman, Saudi Burlian, Andi Syarifuddin.
“ Kita juga mengkaji manuskrip lama Palembang, dibandingkan dengan sumber yang selama ini sdh beredar. Dicarikan titik temunya untuk analisis berikutnya,” katanya.

Manuskrip yang sudah di kaji diantaranya silsilah raja-raja Palembang yang disalin oleh Nanang Mashri dan tarikhnya yang ditulis Raden haji Abdul Habib, naskah yang di tulis oleh Abdussomad AL-Palembani.

“ Soal kapan akan dibukukan kajian kita ini , kita sedang urus penerbitannya. Kita bikin sendiri penerbitannya Palembani publishing House dan rencana kedepan akan meluaskan dengan pertemuan dengan negara-negara rumpun Melayu setelah data yang kita kumpulkan mantap,” katanya.#osk

Beri komentar