Home » Berita » Pertama di Indonesia! Kotak Kosong Menang Pilkada - Trijaya FM Palembang

Pertama di Indonesia! Kotak Kosong Menang Pilkada

Walkot Makassar Ramdhan ‘Danny’ Pomanto cek kondisi banjir. (Ibnu)

Makassar – Dunia politik Indonesia dibuat heboh soal kemenangan kotak kosong pada pemilihan Wali Kota Makassar pada pertengahan tahun ini. Suara kotak kosong menekuk suara koalisi parpol.

Dirunut detikcom, Kamis (12/27/2018), awal munculnya kotak kosong di Makassar setelah Mahkamah Agung (MA) mencoret pasangan Mohammad Ramdhan Danny Pomanto dan Indira Mulyasari (DIAmi) dari bursa Pilwalkot Makassar. Atas putusan itu, Pilwalkot Makassar akhirnya diikuti oleh pasangan Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

MA dalam putusannya beranggapan bahwa Danny Pomanto selaku petahana dianggap menggunakan jabatannya untuk melakukan kampanye terselubung dalam program pemerintahannya. Hal ini dianggap oleh majelis hakim dengan ketuanya Agung Supandi dan hakim anggota Yudo Martono Wahyunadi dan Is Sudaryono, merugikan pasangan lainnya.

Karena pertimbangan tersebut, MA lalu mencoret Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kta dan Wakil Wali Kota. Maka tinggallah pasangan Appi-Cicu yang melaju sendiri menuju kursi Wali Kota Makassar.

Namun pada 27 Juni 2018 semua orang tersentak, pundi-pundi suara kotak kosong di Makassar mengalir deras. Berdasarkan hasil rekapan dari KPU Kota Makassar per kecamatan, kotak kosong menang atas pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

Dari rekapitulasi ini, pasangan Appi-Cicu total mendapatkan 264.071 suara dan kotak kosong 300.969 suara.

Drama saling klaim pendukung kotak kosong dan kelompok dari App-Cicu juga sempat terjadi pada sore hari setelah pemungutan suara berlangsung. Klaim pertama muncul di sore hari dari arak-arakan massa di jalan protokol Makassar yang menyuarakan kemenangan kotak kosong.

“Hidup kotak kosong, kotak kosong menang di Makassar,” teriak para massa yang berkonvoi di sepanjang jalan. 

Mereka memberikan simbol kosong di jari mereka ketika melintasi jalan.

Sementara itu, Appi dalam orasinya di hadapan pendukung mengklaim memenangi Pilwalkot Makassar dengan memperoleh suara lebih banyak dari kotak kosong. Dia mengklaim Makassar telah memiliki pemimpin baru dan menyebut menang sebesar 52 persen. 

“Artinya apa, artinya pada malam hari ini kita memperlihatkan ke seluruh warga kota Makassar bahwa Makassar sudah punya Wali Kota dan Wakil Walikota,” kata Appi saat itu.

Kemenangan kotak kosong ini membuat riuh politik di Tanah Air. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengistilahkannya sebagai bentuk ‘hukuman’ masyarakat kepada elite. Dia menyebut demokrasi adalah suara rakyat. Fahri meminta elite peka terhada kemauan rakyat.

Tidak hanya itu, Gerindra dan Jubir Wapres Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah pun terlibat saling sindir satu sama lain. Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono menghubungkan kemenangan kotak kosong dengan JK yang memiliki hubungan dekat dengan Appi, Cawawali yang kalah melawan kotak kosong. 

Ferry menilai kemenangan kotak kosong sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap Appi yang dekat JK.

“Kotak kosong ini gambaran tentang perlawanan rakyat. Karena yang dilawan adalah orang yang punya kekerabatan dengan Pak Jusuf Kalla,” kata Ferry dalam diskusi ‘Pilkada, Kotak Kosong, dan Pilpres’ di Jakarta.

Kubu JK tidak tinggal diam, Husain pun balik menyindir kegagalan Gerindra sebagai parpol pengusung Appi-Cicu. Dia mengatakan seharusnya Gerindta sebagai partai pengusung melakukan evaluasi bagaimana kinerja partainya bersama calon yang diusungnya, dalam hal ini Munafri-Rachmatika Dewi.

“Lagi pula paslon yang maju pada Pilwali Makassar secara politik tidak berkaitan langsung dengan Pak JK,” kata dia.

Sengketa Pilwalkot ini sempat dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh pasangan Appi-Cicu. Namun, suara kotak kosong di gedung MK ini tetap nyaring berbunyi. Dalam putusan MK, disebutkan perolehan suara Appi-Cicu adalah 264.245 suara. Sedangkan perolehan suara yang ‘tidak setuju’ (kolom kosong) adalah 300.795 suara. 

Jadi perbedaan perolehan suara antara pemohon dan suara yang ‘tidak setuju (kolom kosong) adalah 300.795 suara – 264.245 suara = 36.550 suara atau lebih dari 2.825 suara.

“Dengan demikian, jumlah perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan suara yang ‘tidak setuju’ (kolom kosong) untuk dapat diajukan permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar Tahun 2018 adalah paling banyak 0,5% x 565.040 suara (total suara sah) = 2.825 suara,” ujar MK.
(tfq/asp)

Beri komentar