Home » Berita » Jokowi Sebut Isu APBN Bocor Bikin Resah, BPN: Itu Hal Nyata - Trijaya FM Palembang

Jokowi Sebut Isu APBN Bocor Bikin Resah, BPN: Itu Hal Nyata

Jakarta – Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), menanggapi soal tudingan APBN ‘bocor’ yang dinilai membuat resah masyarakat. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut kebocoran tersebut adalah kenyataan.

“Bocor itu dari mana, satu yang pertama bocor itu dari perilaku korupsi. Kita tahu sudah ada ratusan kepala daerah tertangkap KPK, kita tahu ketua DPR kita masuk penjara, ketua DPD masuk penjara. Banyak juga anggota DPR tingkat satu, tingkat dua masuk penjara. Itu menunjukkan ada hal nyata,” kata Juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, kepada detikcom, Minggu (10/2/2019) malam.

Andre mengatakan alasan Jokowi yang menyebut 80 persen kementeriannya mendapat predikar wajat tanpa pengecualian (WTP) dari BPK juga lemah. Dia menuturkan hasil audit BPK tidak bisa menjamin bersihnya korupsi.

“Emang (WTP) bisa membuktikan? Koruspi terus berjalan, jadi pertama korupsi itu kebocoran,” ucap Andre.

Andre meminta Jokowi tidak reaktif terhadap kritikan yang dilontarkan Prabowo. Dia menilai kritikan tersebut bisa menjadi cara agar pemerintah mengevaluasi diri.

“Saya harap presiden responsif mendapat masukan bekerja lebih keras lagi, bukan marah-marah. Ngomel-ngomel di berbagai pertemuan,” jelas Andre.

Sebelumnya, Prabowo memperkirakan sekitar 25% anggaran negara ‘bocor’. Prabowo menyebut tentang ‘kebocoran’ anggaran negara itu sudah ia hitung dan tulis di bukunya.

“Saya hitung dan saya sudah tulis di buku, kebocoran dari anggaran rata-rata, taksiran saya mungkin lebih, sebetulnya 25% taksiran saya anggaran bocor. Bocornya macam-macam,” kata Prabowo saat berpidato di HUT ke-20 Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Hall Sport Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/2).

Prabowo kemudian menjelaskan penyebabnya. Capres nomor urut 02 itu menyebut kondisi seperti ini terjadi terus-menerus.

“Proyek yang harganya 100 dibilang 150. Itu namanya apa, penggembungan, namanya mark up. Harga 100 dia tulis 150. Bayangkan, jembatan harga 100 ditulis 150. Dan ini terjadi terus-menerus. Kita harus objektif masalah ini sudah jalan lama. Ini harus kita hentikan dan kurangi,” jelasnya. (detik)

Beri komentar