Home » Berita » Darurat Kabut Asap! - Trijaya FM Palembang

Darurat Kabut Asap!

Jakarta – Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Regional Sumatera menyebut kualitas udara di Pekanbaru sudah level berbahaya akibat karhutla. Kabut asap di Riau ini juga berdampak ke daerah lain.

“Sejak kemarin hingga hari ini dari pembacaan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) kualitas udara Pekanbaru sudah tingkat berbahaya,” kata Kepala Pusat P3E Regional Sumatera di bawah KHLK, Amral Fery, , Jumat (13/9/2019).

Data yang didapat P3E Regional Sumatera, wilayah di Pekanbaru yang level udaranya berbahaya ada di Kecamatan Rumbai dengan konsentrasi partikel debu 848. Wilayah lainnya berada di Kabupaten Siak, Kecamatan Minas juga level berbahaya konsentrasi 877.

Di Kabupaten Rokan Hilir, lanjut Amral, juga kualitas udara berbahaya. Kemudian dua kecamatan yakni Libo (544) dan Bangko (572). Di Kabupaten Bengkalis level berbahaya terjadi di Duri dengan konsentrasi partikel debu 481.

“Untuk level kualitas udara tidak sehat, ada di Dumai dan sebagian di Duri Kabupaten Bengkalis,” kata Amral.

Untuk ISPU, ada empat tingkatan kualitas udara. Pertama kategori ‘Baik’ dengan warna hijau. Kondisi ini tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika. Kondisi ini dengan rentang angka 0 hingga 50.

Selanjutnya kategori ‘Sedang’ rentang 51-100 pada warna biru. Kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.

Adapun udara ‘Tidak Sehat’ dengan nilai partikel debu 101-199 dengan tanda warna kuning. Kondisi ini tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Selanjutnya kategori ‘Sangat Tidak Sehat’ di angka 200-299 dengan warna merah. Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

Puncaknya kategori kualitas udara ‘Berbahaya’ dengan warna hitam dengan nilai partikel debu lebih dari 300. Kondisi ini kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius.

DPRD Riau mendesak Presiden Jokowi untuk datang ke Riau melihat langsung 6 juta rakyat yang saat ini terpapar asap. DPRD Riau Juga mendesak Pemprov untuk menetapkan darurat asap.

“Kita berharap Presiden Jokowi bisa melihat langsung bencana asap yang terjadi saat ini. Jarak pandang di Riau saat ini hanya bisa tembus antara 300 dan 400 meter saja,” kata Ketua Fraksi Demokrat, Agung Nugroho, , Jumat (13/9).

Tak hanya di di Sumatera, kaarhutla di Kalimantan juga menimbulkan asap yang berbahaya. Hujan buatan diharapkan mampu memadamkan karhutla, namun hujan buatan belum bisa dibikin lantaran sedikitnya awan.

“Tentu terkendala karena hujan buatan bisa dilakukan kalau ada awan di atas lokasi itu yang kadar airnya 75%. Pesawat terbang naik tabur garam hujan pasti turun. Tapi kalau kandungannya tidak sampai 75% ditaburi garam ya nggak akan hujan,” kata Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, usai rapat penanganan Karhutla di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (13/9).

Kandungan awan di langit yang terdampak karhutla ternyata belum cukup untuk bisa dijadikan hujan. Bila awan sudah cukup banyak terkumpul, maka pesawat akan segera meluncur untuk menaburi awan itu dengan garam. Tujuannya, supaya awan segera berubah menjadi hujan.

Beri komentar