Home » Berita » Sejarah dan Budaya Sumsel Sudah Lama Di Hancurkan Oleh Orang Sumsel Sendiri - Trijaya FM Palembang

Sejarah dan Budaya Sumsel Sudah Lama Di Hancurkan Oleh Orang Sumsel Sendiri

Palembang, BP

Sejarah dan Budaya merupakan suatu unsur penting pembentuk identitas suatu kumpulan orang banyak terlebih suatu bangsa. Kepribadian suatu bangsa akan tercermin melalui sejarah dan budayanya. Seperti di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sejarah dan budayanya sudah terbentuk lama.

Namun bagi Akademisi Sumsel, Dr Tarech  Rasyid Msi melihat sejarah dan budaya Sumsel  sudah lama dihancurkan oleh orang Sumsel sendiri, padahal Sumsel sudah lama memiliki identitas Sriwijaya yang merupakan identitas budaya maritim atau bahari.

” Dalam budaya bahari itu orangnya  terbuka, jujur, kerja keras, toleransi  ini berbeda dengan budaya kontinental lebih ke darat , ciri yang kita kembangkan sebagai budaya maririm sebenarnya juga dipeluk oleh beberapa kerajaan baik Majapahit termasuk  kerajaan di Sunda dan Demak, tetap melihat maritim sebagai alur, ini kita tinggalkan kita sibuk membangun budaya kontinental,” katanya saat menjadi nara sumber dalam Diskusi  lembaga kajian dan pusat studi komunikasi”Merawat Bangsa Dengan Identitas Kebudayaan” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN Raden Fatah, Palembang, di ruang rapat utama, Gedung SBSN, Lantai IV, Fisip, UIN Raden Fatah, Palembang, Kamis (12/9).

Turut menjadi nara sumber guru besar  Fakultas ilmu Budaya Universitas Padjajaran , Bandung, Prof  Dr Dadang Suganda Mhum, akademisi Sumsel, Dr Tarech  Rasyid Msi dan Dekan Fakultas Fisip, UIN Raden Farah Palembang, Prof Dr H Izomiddin MA.

Karena itu menurutnya dalam membangun konsep kebudayaan, masyarakat selalu berada di persimpangan apakah maritim tetap ke kontinental.

“ Dari disini karena elit politik lokal berpikir kontinental, maka muncullah surat keputusan dari Gubernur Sumsel Sainan Sagiman untuk membubarkan pemerintahan marga, “ katanya.

Belum lagi menurutnya Bukit Siguntang yang menjadi identitas budaya melayu beberapa aspek sejarahnya sudah hancur sehingga tidak bisa menjadi cagar budaya walaupun masih syarat dengan nilai.

“ Karena elite di Sumsel kala itu banyak mencampuri , padahal dalam undang-undang pemajuan kebudayaan , pemerintah atau negara tidak boleh mencampuri masyarakat yang menjadi subjek dari pendukung kebudayaan itu sendiri, jadi pencipta kebudayaan ini rakyat bukan negara, nah ini negara ikut terlibat, itulah menjadi kacau balau,” katanya.

Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menurutnya memberi jalan bahwa negara hanya memfasilitasi kebudayaan saja.

“ Kita bisa memprotes pemerintah kalau tidak punya kepedulian terhadap pemajuan kebudayaan, dia dianggap melanggar undang-undang sekaligus melanggar hak-hak ekonomi, sosial dan budaya,” katanya.

Walaupun  dengan kondisi demikian menurutnya jangan membuat masyarakat Sumsel putus,  malah dengan Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan, Kebudayaan Sumsel masih terbuka harapan untuk memperbaiki , merekonstruksi kembali kebudayaan Sumsel yang selama ini memiliki kekuatan sosial.

Sedangkan Guru besar  Fakultas ilmu Budaya Universitas Padjajaran , Bandung, Prof  Dr Dadang Suganda Mhum menilai aspek biologis, mental, pergaulan  mempengaruhi identitas seseorang.

Dia melihat budaya impor secara  otomatis akan menggerus identitas budaya lokal, karenanya ada dua pilihan  yaitu ikut arus globalisasi  ini dengan mengakomodir budaya ini dan kita akan tertinggal dan hidup kita tidak bisa mengikuti perkembangan budaya.

“ Tetapi bagi saya prinsipnya , budaya  tetap bertranspormasi, sejauh transformasinya dapat  mengabdikan pada kepentingan manusia,” katanya.

Sedangkan Dekan Fakultas Fisip, UIN Raden Farah Palembang, Prof Dr H Izomiddin MA mengajak bagaimana agar kembali kepada pandangan nilai yang hidup dalam masyarakat.

“ Orang-orang dahulu banyak sekali mengajarkan nilai-nilai sehingga bisa kita pegang, kalau sekarang khan tidak muncul nilai-nilai dalam kehidupan kita sehari-hari,  padahal dalam setiap aktivitas budaya itu ada nilainya,  nilai itu sampai sekarang sangat penting malah itu sengaja di kacaukan oleh kekuatan kekuatan luar,” katanya.

Karena itu pemimpin pemimpin kedepan menurutnya harus menyadari betapa penting nilai-nilai dalam masyarakat.#osk

Beri komentar