Home » Berita » Melihat Lebih Dekat Talkshow Gertax Komunikasi FISIP Unsri - Trijaya FM Palembang

Melihat Lebih Dekat Talkshow Gertax Komunikasi FISIP Unsri

PALEMBANG – Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sriwijaya (UNSRI) telah sukses gelar talkshow Generasi Muda Tolak Hoax (Gertax)  di Palembang Icon Mall, Minggu (17/11/2019).

Pembawa acara

Dalam sambutan Mewakili Ketua Jurusan Ilkom FISIP Unsri Rindang Senja, S.Ikom, M.Ikom mengatakan diskusi bertema gerakan mahasiswa anti hoaks merupakan bagian dari tugas perkuliahan kampus jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsri.

“Mahasiswa harus peka terhadap tantangan jurnalistik dalam menjaga kesatuan NKRI yang semakin nyata penuh persoalan pembangunan yang harus dimediasi oleh semua jenis media,”ujar Dia.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada sponsor dan media partner TIME Indonesia, Tribun Sumsel, VOS Media dan Radio Trijaya FM.

Sementara, Kasi Sumber Daya Komunikasi Publik Bidang PKP Diskominfo Sumsel Dwi Karolita mengatakan anak sekolah dan mahasiswa sebagai generasi yang mudah beradaptasi dengan teknologi sangat rentan menjadi pelaku dan percaya terhadap penyebar hoaks yang beredar di masyarakat.

Berdasarkan data yang disajikan APJII Tahun 2018, 54,68% dari total populasi penduduk Indonesia adalah pengguna aktif internet.

“Dalam jumlah tersebut penggunaan media sosial dioptimalkan dalam berbagai aspek positif, namun tetap berdampak negatif bagi para pengguna yang tidak bijak,”katanya.

Berdasarkan Pasal 40 ayat (2b) Undang-Undang No.19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kemenkominfo mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.19 Tahun 2014 tentang Penanganan Situs Bermuatan Negatif.

“Hoaks adalah berita bohong yang membawa dampak negatif karena adanya pihak dirugikan,” katanya.

Ia mengajak generasi muda untuk tidak menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menghujat bahkan melakukan bullying. Karena media sosial tidak bijak untuk digunakan sebagai sarana politik praktis termasuk juga urusan sara. 

“Bijak bermedia sosial, dan yok jadi pahlawan antihoaks,” ajaknya.

Berdasarkan ketentuan Hoaks dapat dihukum berdasarkan Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.

“Laporkan aduan konten negatif dengan cara screen capture dan URL link dan kirim kelaman web aduankonten.id. “Kirim bukti melalui email aduankonten@mail.kominfo.go.id,”katanya.

Kenali Informasi Hoaks

Anak muda terutama mahasiswa harus cerdas memfilter informasi atau berita diera digital saat ini. Hal ini dikarenakan maraknya berita hoax yang masif menyebar hingga masuk diruang privasi.

“Berita hoax itu berita bohong yang tidak terkonfermasi kebenarannya dan menyesatkan masyarakat, “kata Erwanto, S. Sos Redaktur Tribun Sumsel di acara Talkshow Generasi Muda Tolak Hoax (Gertax).

Menurut dia, ciri berita hoaks itu biasanya berasal dari akun palsu atau media tidak jelas dengan domain media kurang profesional seperti blogspot.

“Selain itu juga tidak ada redaksi yang jelas dan tidak terdaftar secara resmi di dewan pers,”ujar Alumnis Sosiologi FISIP Unsri ini.

Ketua Bawaslu Sumsel Iin Irwanto, ST, MT yang mengatakan berita hoax dominan di isu politik kemudian SARA dan Kesehatan.

“Generasi muda harus punya kemandirian intelaktual dan bijak menyerap informasi, jangan mudah untuk menyebar karena bisa berimplikasi pidana,”ujarnya.

Namun terkait Bawaslu punya keterbatasan dalam mengawasi pemilu terkait dengan media sosial.

“Bawaslu hanya bisa mengawasi akun-akun yang terdaftar di KPU untuk peran kita sebagai generasi muda sangat penting melawan hoax,”ujar Dia.

Sementara Pemerhati Sosial Politik Rumah Citra Indonesia (RCI) Bung FK mengungkapkan Media Sosial paling banyak dalam menyebarkan Hoax hal ini sering dengan perkembangan smartphone yang semakin meningkat diatas 100 jutaan pengguna.

“Masyarakat Telematika Indonesia menyebut 91 persenan informasi hoax itu soal isu politik. Kita dituntut agar cerdas dan selalu kritis terhadap isu yang masuk dan jangan lupa menkroscek kebenaran informasi baik cek fakta ataupun search melalui media-media resmi,”ujar Sekjend IKA FISIP Unsri ini.

Dia menambahkan sebagai generasi muda sebaiknya kita harus mampu saring terlebih dahulu informasi.

“Jika hoax cukup informasi sampai dikita saja jangan ikut menyebarkan, janganlah jadi agen hoax, jadilah agen informasi positif menginspirasi,”katanya.(*)

Beri komentar