Home » Berita » OJK Berantas Maraknya Fintech Peer to Peer Lending Ilegal Dan Investasi Ilegal - Trijaya FM Palembang

OJK Berantas Maraknya Fintech Peer to Peer Lending Ilegal Dan Investasi Ilegal

JakartaTingginya penggunaan teknologi digital berbasis penetrasi internet yang menggunakan media smartphone, telah menjadi faktor pendorong terhadap pertumbuhan industri Financial Technology atauyang lebih sering kita sebut dengan Fintech berkembang  sangat pesat di masyarakat.

Di awal pertumbuhannya sejak tahun 2006-2007 fintech sudah mencapai angka persentase  yang sangat fantastis, yakni dari 7% tumbuh menjadi 78%. Dari angka ini dapat dilihat besarnya angka pertumbuhan hanya dalam kurun waktu satu tahun, maka dapat dibayangkan pesatnya pertumbuhan angka fintech hingga tahun 2019.

Merespon inovasi teknologi yang sangat cepat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentu sangat penting untuk mengambil langkah progresif dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat. Hingga Maret 2019 Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi OJK mencatat  dari 106 perusahaan P2P yang terdaftar, baru 1 perusahaan yang memiliki izin, selain itu OJK juga menghentikan kegiatan 168 entitas yang melakukan kegiatan usaha Peer to Peer Lending Ilegal. Hingga akhir Nopember lalu, Satgas Waspada Investasi  (SWI) kembali menemukan 125 entitas yang melakukan kegiatan fintech  peer to peer lending ilegal yang tidak terdaftar di OJK.

“Kegiatan fintech peer to peer lending ilegal masih banyak beredar lewat website maupun aplikasi serta penawaran melalui sms. Kami meminta masyarakat untuk berhati-hati sebelum melakukan pinjaman secara online dengan melihat apakah aplikasi peer to peer lending tersebut telah terdaftar di OJK atau belum.” kata Ketua SWI Tongam L. Tobing, Selasa (3/12/2019).

Sebelumnya, pada 7 Oktober 2019, Satgas Waspada Investasi telah menindak 133 entitas fintech peer to peer lending ilegal, sehingga total entitas fintech peer to peer lending ilegal yang ditangani Satgas Waspada Investasi sampai dengan November 2019 sebanyak 1.494 entitas dengan total entitas fintech peer to peer lending ilegal yang sudah ditindak oleh Satgas Waspada Investasi sejak tahun 2018 hingga November 2019 sebanyak 1.898 entitas.

Tongam L.Tobing menjelaskan pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk 13 kementerian/lembaga di dalam Satgas Waspada Investasi dan sejumlah pihak terkait seperti asosiasi fintech untuk mencegah masyarakat menjadi korban dari fintech peer to peer lending ilegal, antara lain dengan memperbanyak sosialisasi dan informasi mengenai bijak meminjam di fintech peer to peer lending danmembuka layanan pengaduan Warung Waspada Investasi.

“Kami mengajak semua anggota Satgas untuk semakin aktif bersama-sama melakukan pencegahan maraknya fintech peer to peer lending ilegaldan invetasi ilegal untuk melindungi kepentingan masyarakat,” kata Tongam.

Satgas Waspada Investasi terdiri dari 13 kementerian/lembaga yaitu OJK, Bank Indonesia, Kementerian Kominfo, Kementerian Agama, Kementerian Perdagangan, Kemendagri, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kemendikbud, Kemenristek, Kejaksaan Agung, Kepolisian RI, PPATK dan BKPM.

182 Kegiatan Usaha Tanpa Izin

Satgas Waspada Investasi hingga akhir Nopember juga menghentikan 182 kegiatan usaha yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Dari 182 entitas tersebut di antaranya melakukan kegiatan sebagai berikut:

  • 164 perdagangan forex tanpa izin;
  • 8 investasi money game;
  • 2 equity crowdfunding ilegal;
  • 2 multi level marketing tanpa izin;
  • 1 perdagangan kebun kurma;
  • 1 investasi properti;
  • 1 penawaran investasi tabungan;
  • 1 penawaran umrah;
  • 1 investasi cryptocurrency tanpa izin;
  • 1 koperasi tanpa izin.

Tongam menjelaskan bahwa kegiatan 182 entitas ini  berbahaya karena memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat untuk menipu dengan cara iming-iming pemberian imbal hasil yang sangat tinggi dan tidak wajar.

Satgas Waspada Investasi juga mengimbau kembali kepada masyarakat untuk tidak ikut dalam kegiatan yang dilakukan oleh entitas PT Kam And Kam (Memiles), karena merupakan kegiatan yang ilegal dan tidak memiliki izin dari otoritas. Total kegiatan usaha yang diduga dilakukan tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat yang telah dihentikan oleh Satgas Waspada Investasi selama tahun 2019 sebanyak 444 entitas.

Satgas menyatakan ada satu entitas yang sebelumnya ditindak oleh Satgas telah mendapatkan izin usaha yaitu PT Sinergi Rezeki Ananta yang memperoleh izin berupa SIUPL untuk melakukan kegiatan penjualan produk dengan sistem multi level marketing.

(SIL)

Beri komentar