Home » Berita » Tren Kemenangan Paslon Perseorangan Terus Turun, RCI Ulas Penyebabnya - Trijaya FM Palembang

Tren Kemenangan Paslon Perseorangan Terus Turun, RCI Ulas Penyebabnya

PALEMBANG – Pasangan Independen (perseorangan) selalu menghiasi pilkada ke pilkada termasuk di Sumatera Selatan. Namun hingga pilkada 2018 lalu belum ada pasangan perseorangan yang memenangkan pilkada di Sumatera Selatan.

Direktur Eksekutif RCI M Zulfikar, M Pd (Foto : RCI)

Pilkada 2020 diperkirakan sejumlah daerah bakal diikuti paslon perseorangan yang saat ini masih dalam proses tahapan diantaranya Kabupaten OKU Timur, Musi Rawas dan Muratara.

Merujuk berdasarkan kajian dan data yang dihimpun oleh Rumah Citra Indonesia (RCI) periode waktu tahun 2015 sampai dengan 2018 menunjukkan ada sekitar 541 wilayah yang menggelar pilkada di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, pasangan kontestan pilkasa mencapai sekitar 1.684 paslon, terdiri atas 1.374 paslon (81,59 persen) diusung oleh parpol atau gabungan parpol.
Sedangkan, 310 paslon (18,41 persen)
diusung calon perseorangan (independen).
Dalam kurun waktu tersebut juga menunjukkan ada tren penurunan kepesertaan calon perseorangan dalam setiap pilkada dari total 310 paslon perseorangan.

“Dari data terdapat 135  paslon perseorangan pada Pilkada 2015, turun menjadi 85 paslon pada Pilkada 2017 dan kemabali menurun menjadi 90 paslon di Pilkada 2018,”ungkap Direktur Eksekutif RCI Zulfikar, M Pd.

Dari data yang dihimpun RCI dari berbagai sumber, Menurut alumni Pasca Sarjana UNJ ini, pemenang masih didominasi pasangan calon yang diusung oleh parpol atau gabungan parpol yang memenangkan di 523 pilkada.

“Sedangkan calon perseorangan hanya memenangkan di 18 pilkada (3,33 persen). dan dari jumlah tersebut tidak ada diwilayah Sumatera Selatan,”ujar alumni UNSRI ini.

Kemudian lebih dalam lagi dari jumlah calon perseorangan yang memenangkan kontestasi dalam setiap pilkada juga mengalami penurunan. Ada 13 Paslon perseorangan (9,63 persen) yang menang di Pilkada 2015 turun menjadi 3 paslon (3,53 persen) yang menang di Pilkada 2017. “Dan hanya 2 paslon (2,22 persen) di Pilkada 2018,”ujar Bang Zoel sapaan akrabnya.

Dari catatan data KPU, kemenangan calon perseorangan ada di wilayah luar Pulau Jawa dengan jumlah pemilih yang sedikit atau kecil. Sedangkan wilayah dengan jumlah pemilih yang relatif besar alias gemuk didominasi kemenangan kandidat dari parpol.

Dalam catatan RCI ada pasangan perseorangan yang unggul di pilkada 2018 sebagai contoh Fransiskus Roberto Diogo dan Romanus Woga mampu memperoleh 40,10 persen suara sah di Sikka, NTT.Selain itu ada juga pasangan Irsan Efendi Nasution dan Arwin Siregar dengan perolehan 44,26 persen suara sah di pilkada Kota Padang Sidimpuan pilkada 2018.

Zulfikar menjelaskan minimnya paslon perseorangan yang memenangkan pilkada menjadikan banyak mempertanyaan terkait keseriusannya maju pilkada atau hanya sebagai pelengkap saja. 

Ada faktor yang menyebabkan paslon perseorangan sulit bersaing dengan paslon parpol yakni faktor ketokohan kandidat yang tidak mengakar, jaringan politik yang lemah tidak seperti parpol yang telah memiliki jaringan hingga tingkat desa.

“Kemudian yang terpenting yakni faktor modal sosial dan kapital. Tidak bisa dipungkiri di pilkada langsung apa yang telah diperbuat ditengah masyarakat sangat penting dan bagaiamana merawatnya atau biaya politik dalam melakukan gerakan. Jika ingin maju dan menang tiga faktor tersebut harus di miliki kandidat,”terang Direktur Ekskutif Rumah Citra Indonesia ini.(*)

Beri komentar