Home » COVID19 » Pandemi Covid-19 Memukul Perekonomian Rumah Tangga dan Pelaku Usaha - Trijaya FM Palembang

Pandemi Covid-19 Memukul Perekonomian Rumah Tangga dan Pelaku Usaha

Trijayafmplg.net – Memandang krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19 saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisis keuangan Asia 1998 serta krisis keuangan global 2008, adalah tidak sama. Sementara, di masa pandemi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah memiliki peran sangat penting. Terlebih karena hampir semua sektor publik hingga swasta terkena imbas Covid-19.

Kesimpulan ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi salah satu panelis dalam acara Toronto Centre Live Webinar dengan tema “Post Covid-19 Crisis: Implications for Financial Stability, Financial Inclusion, Gender Equality and International Development”, Senin 29 Juni 2020.

Ia menyebut bahwa krisis kali ini berbeda sekali karena pemerintah harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus.

“Untuk membendung penyebaran virus, kita harus membatasi pergerakan manusia. Itu salah satu shock besar karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Jadi kita harus memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan. Ini lah mengapa Pemerintah berperan sangat penting”, kata Menkeu.

Pandemik Covid-19 ini memukul perekonomian masyarakat secara luas, termasuk rumah tangga dan pelaku usaha. Selain perlindungan sosial, dukungan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM sangat penting. Salah satu langkah penting adalah restrukturisasi kredit UMKM, dibarengi dengan subsidi bunga dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit.

Menurut Menkeu, banyak pelaku UMKM adalah wanita, sehingga dukungan ini juga sekaligus berdampak pada inklusi keuangan dan kesetaraan gender yang menjadi topik webinar ini.

Menkeu menambahkan bahwa satu hal yang berbeda pada krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial, dan beruntung Indonesia punya teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online.

“Episentrum pandemi di Indonesia yaitu Jakarta yang masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi. Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital”, ujar Sri Mulyani.

Acara ini dimoderatori oleh Chair of OECD Development Assistance Committee Susanna Moorehead, dengan panelis lainnya yaitu Vice President dan Chief Economist World Bank Group Dr. Carmen Reinhart. Untuk diketahui, Toronto Centre merupakan lembaga nirlaba yang fokus pada capacity building regulasi dan pengawasan sektor keuangan. Lembaga nirlaba ini telah didukung oleh berbagai lembaga donor seperti GAC (Canada), SIDA (Sweden), World Bank, dan IMF. Toronto Centre telah bekerja sama antara lain dengan lembaga pengawasan sektor keuangan Swedia, Singapura dan menangani beberapa proyek spesifik seperti South East Asian Central Bank Research and Training Center dan ASEAN Insurance Training and Research Institute.***

(Julian/Rilis)

Beri komentar