Home » Feature » Fokus : 2010, Tahun Pesta Sensus

Fokus : 2010, Tahun Pesta Sensus

Talkshow TPT " Sensus dan Masalah Kependudukan"

Palembang – “Pastikan anda dihitung”. Inilah yang menjadi sorotan pihak BPS dalam rangka menarik perhatian masyarakat, untuk berperan aktif dalam pengisian data kependudukan.

BPS saat ini, sedang mempersiapkan diri untuk melakukan sensus penduduk yang keenam dan dilaksanakan secara serentak pada bulan mei 2010. Sensus penduduk ini, merupakan siklus 10 tahunan. Sebelumnya pernah diselenggarakan pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000.

Sensus, sejatinya bukan alat untuk mengevaluasi jumlah penduduk. Namun, sebagai alat untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat. selain itu, sebagai alat untuk menentukan kebijakan pemerintahan kedepan. Namun, sangat ironis, jika pelaksanaan sensus yang dibayar dengan harga mahal, berkisar 3,3 Triliun, dilakukan dengan asal-asalan. Apalagi variabel sensus yang akan dilaksanakan bulan mei nanti, mengalami penambahan yang sangat siknifikan, dari 15 variabel menjadi 43 variabel.

Pengamat sosial kependudukan Syaifudin Zakir menilai, hal tersebut memang sangat beralasan, pasalnya sering ditemukan data antara dinas yang satu dengan yang lain, hasil pendataannya berbeda. Padahal objek yang didata merupakan objek yang sama. Hal ini, mengindikasikan pendataan yang dilakukan secara asal-asalan, bahkan disinyalir hasil pendataan masih dipengaruhi kepentingan-kepentungan tertentu.

Pertanyaan yang sering menjadi sorotan publik terhadap kevalidan data, adalah soal kejujuran petugas pencacah dalam mendata di lapangan. Apalagi, saat ini ketebalan variable data yang mencapai 12 halaman, ditambah dengan sikap masyarakat yang terkadang bermacam-macam, dalam merespon saat didata. Sehingga petugas pencacah, tidak menutup kemungkinan, akan melakukan kecurangan dalam bertugas.

Sungguh amat ironis, jika data yang dikumpulkan oleh petugas BPS, yang menjadi alat penentu kebijakan pemerintah kedepan, tidak menggambarkan kondisi masyarakat yang sesungguhnya.

Namun, untuk mengantisipasi hal ini BPS Sumsel telah memiliki strategi. Menurut Kepala Biro Pusat Statistik Sumatera Selatan Haslani haris, BPS sudah berupaya untuk meminimalir masalah-masalah yang akan terjadi dilapangan .

Menurutnya, dari 17 ribu petugas, yang terdiri dari 15 kabupaten kota, 215 kecamatan, dan 310 desa kelurahan, pihaknya telah merekrut petugas dari penduduk setempat. Sehingga mereka sebelumnya sudah mengenal orang-orang yang akan dicacah.

Selain itu, sebelum pelaksanaan pencacahan, pihaknya telah memberikan pelatihan-pelatihan cara pencacahan data. Bahkan, untuk menanamkan rasa kejujuran kepada petugas, BPS juga memberikan pelatihan siraman rohani. Namun, Haslani juga menyatakan, tidak menutup kemungkinan, kesalahan-kesalahan dalam pencacahan terjadi. Oleh sebab itu, BPS akan mempublikasikan standar eror dalam pencacan nantinya.

Sangat disayangkan, jika sensus penduduk yang dilakukan 10 tahun satu kali ini, menghasilkan data yang tidak valid, akibat oknum petugas ataupun masyarakat yang kurang respon.

Semua pihak, seperti BPS, petugas pengawas, petugas pencacah, camat, lurah, RT, RW serta masyarakat, harus turut berpartisipasi, untuk menyukseskan peyelenggaran sensus penduduk tersebut. Hasil sensus penduduk, merupakan hajat kita bersama. (Hazmin)

Beri komentar