Home » Feature » Tak Terlihat, Termaginalkan dan Terlupakan

Tak Terlihat, Termaginalkan dan Terlupakan

Oleh Faturrahman

Banyuasin – Bagaimana sesungguhnya pembangunan di Daerah ini terutama didaerah yang jauh dari mobilisasi masyarakat keramaian. Keadilan Sosial dan pemerataan pembangunan atas kebutuhan dasar manusia masih sangat kurang. “Ibarat Kata, Mereka Yang Tak Terkentara”.

Pertanyaan ini mengiringi akhir dari perjalanan kami beberapa pekan lalu, Minggu (12/09) di kawasan Pedalaman Banyuasin, Sumatera Selatan, sekitar 1,5 jam dari kota Palembang. Daerah ini merupakan kawasan Transmigran Plasma, Sungai Rengit, Banyuasin.

Betapa tidak, wilayah Transmigran Sungai Rengit sebetulnya sangat populer bagi pecinta mancing, setiap hari pasti ada saja orang yang meluangkan waktu hanya untuk mancing ikan gabus. Mereka justru datang dari Kota Palembang dengan menggunakan kendaran mobil pribadi, truk dan motor.

Bahkan saat akhir pekan, daerah ini ramai dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang dibawa oleh para penikmat mancing yang jumlahnya bisa mencapai puluhan. Salah satunya Yakub dari Palembang yang menuturkan bahwa dirinya hampir satu bulan sekali mancing diwilayah Transmigrasi tersebut.

”Biasanya rombongan mas kami kesini”, Katanya.

Bagi kalangan penikmat ikan gabus yang biasa ketempat ini, Sungai Rengit adalah tempat yang populer. Selain dekat dengan Palembang, mudah dijangkau, ikan gabus dan sejenisnya cukup banyak. Dia juga mengatakan, aktifitasnya dilakukan sejak daerah ini dibuka sekitar 10 tahunan lalu. ”Katanya akan dibuka untuk perkebunan Sawit”, Ungkap Yakup.

Tanda-tanda dibukanya perkebunan sawit oleh perusahaan swasta tampaknya belum ada. Pasalnya sepanjang pandangan mata, saat ini masih ditumbuhi oleh pohon gelam dan rumput-rumput yang tinggi. Cuacanya pun cukup panas karena tidak ada lagi ada pohon-pohon besar yang melindungi daerah ini sejak dibuka menjadi Transmigram Plasma.

Namun, ada juga beberapa hektar yang tampak berkebunan sawit tumbuh didaerah ini diwilayah yang mengelompok-mengelompok tidak beraturan.

Seusai menghampiri para pemancing, kita pun langsung mengendarai motor di jalanan tanah merah diatas rawa. Jalan ini yang bakal menghubungkan kampung-kampung transmigran plasma.

Setelah hampir setengah jam, akhirnya tiba juga di kampung Blok A Transmigran Sungai Rengit. Kami pun disapa dengan ramah warga setempat. Sebetulnya awalnya kami hanyalah datang atas undangan pernikahan keluarga kami yang ada di Air Batu, Kampung Sebelum Sungai Rengit. Namun, karena ada obrolan soal fenomena mancing yang tak pernah sepi oleh waktu di wilayah tersebut, akhirnya tertarik untuk datang hanya sekedar melihat sekaligus jalan-jalan, yang memang sebetulnya telah sering menghampiri daerah ini.

Kebetulan juga, ada yang mendampingi perjalanan menuju daerah hamparan rawa tersebut. Dia adalah Pardi, warga setempat yang ternyata tak lagi mau mendiami rumahnya yang ada di Blok A Sungai Rengit.

Dalam perjalanan, Dia mengatakan, telah lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti. Masyarakat dijanjikan oleh pemerintah setempat bahwa akan ada perkebunan plasma didaerah tersebut. ”Tapi sampai sekarang belum ada realisasinya, sudah 10 tahu lebih”, Katanya.

Menurut Dia, untuk menghidupi kehidupan sehari-sehari sangat sulit, tidak ada yang bisa dihasilkan sampai sekarang. Banyak warga yang mencoba pekarangannya dengan menanam sawit sendiri-sendiri dan tanaman padi tetapi habis oleh babi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mimin (36), warga Blok A Sungai Rengit, yang mengatakan keadaannya justru lebih buruk dari sebelumnya. Pasalnya ini yang kedua kalinya melakukan program transmigran. Sebelumnya berasal transmigran di Muara Sugihan. Disana keadaannya lebih baik karena tanaman padi tumbuh dengan bagus. ”Alih-alih ingin berbaikan hidup dengan perkebunan sawitnya justru tidak ada kejelasan”, Katanya.

Untuk menghidupi keluarganya, warga setempat banyak yang melakukan kerja serabutan yang bisa menghasilkan uang. Diantara mereka ada yang menjadi buruh karet yang ada di kampung sebelumya yaitu Sukajadi dan air batu, ada yang melakukan jualan kecil-kecilan, bahkan ada yang ojek. Dia juga mengatakan, tak jarang juga ada yang mecari peruntungan di Kota Palembang.

Hijrah

Ketidakpastian ekonomi dan ketidakpastian penghidupan yang dijanjikan pemerintah membuat warga yang tidak tahan lagi. Berdasarkan penulusuran Trijaya FM Palembang dari Ratusan Kepala Keluarga di Setiap Blok Tranmigran Sungai Rengit, saat ini 40 Persennya telah hijrah atau keluar dari wilayah tersebut untuk mencari penghidupan yang layak atau kembali ke kampung asal di Pulau Jawa sana.

Tanah-tanah ditinggalkan terbengkalai, ada juga yang dijual kepala orang lain. ”Banyak tanah-tanah tersebut saat ini dimiliki oleh warga diluar transmigran seperti warga Palembang”, kata Pardi, warga yang mendampingi kami yang saat ini juga telah hijrah.

Dia juga mengataka, sebetulnya warga sangat ingin tetap tinggal asal ada kepastian penghidupan seperti perkebunan sawit yang dijanjikan. ”Hampir setiap tahun ada saja aparat pemerintah yang menjanjikan tetapi tak ada realisasinya”, Katanya.

Dia menegaskan mereka yang masih tinggal di Transmigrasi ini sangat menunggu janji pemerintah, paling tidak akan ada titik cerah. ”Terakhir informasi bahwa perkebunan sawit akan masuk 2010 ini, tapi hampir akhir tahun belum juga ada kabarnya”, Ungkapnya.

Terisolasi Dari Air Bersih

Angin sepoi-sepoi segar juga hari ini, tanpak cerah dan mendukung aktifitas dikampung-kampung tersebut. Hirupan secangkir kopi di warung kopi belum juga habis. Obrolan ngalor – ngidul ”Utara – Selatan” telah banyak kami lakukan. Sejenak teringat bahwa kami belum sholat Dzuhur. Setelah menghabiskan kopi, kami akhirnya pamit Sholat yang ditempat salah satu warga.

Dengan polos bertanya, dimana ya harus ambil wudhunya?. Pemilik rumah menunjukan sebuah sungai yang airnya berwarna coklat. Terbesit kamipun langsung bertanya kepada pendamping kami. “Kalau mandi, memasak airnya disini juga ya?” Dia mengatakan kalau musim kemarau terpaksa menggunakan air sungai atau sumur.

”Warga transmigran sini sangat mengandalkan air hujan, satu-satunya air bersih untuk minum”, Katanya. Kalau musim hujan warga tidak khawatir tapi kalau kemarau, terpaksa air hujan digunakan hanya untuk minum. Sementara, jika kehabisan air bersih warga banyak yang beli diluar namun, jika ada uang.

Ternyata begitu banyak yang diharapkan warga tranmigran ini, lalu kemana saja para pejabat pemerintah setempat, kemana saja para wakil rakyat, ”tanya dalam hati”. Seharusnya masyarakat seperti inilah yang harus diprioritasnya dalam pembangunan. Kebutuhan dasar manusia seharusnya menjadi prioritas. Bukan gapura megah, gedung-gedung pemerintah yang mewah tetapi rakyatnya masih banyak yang terpinggirkan.

”Mereka-mereka yang tak terkentara” inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah yang selalu mengedepannya masyarakat miskin sebagai jargon kampannyenya. (Fatur/Trijaya)

Demikianlah Fokus Minggu ini yang dipersembahkan oleh Trijaya FM Palembang.

Beri komentar