Home » Feature » Sungai Musi, Antara Problem dan Berkah

Sungai Musi, Antara Problem dan Berkah

Banyuasin – “ Sungai Musi, Problem dan Berkah” Mungkin inilah pepatah yang tepat untuk menggambarkan Sungai Musi di Sumatera Selatan. Selama ini Sungai Musi dikenal sebagai jalur perdagangan ekspor-impor yang keluar – masuk Sumatera Selatan. Selain itu juga, sebagai jalur transportasi antar provinsi dan daerah di Wilayah Sumatera Selatan. Lalu, seperti apa gambaran Sungai Musi jika dilihat lebih dekat.

Selasa, (15/02) Siang, mencoba menelusuri Sungai Musi dengan mengendarai kapal cepat ”Speedboat” yang terbuat dari kayu, melalui Dermaga Benteng Kuto Besak. Awalnya perjalanan ini hanyalah sebuah silaturahim dengan sahabat karib yang ada di Muara Sugihan, Banyuasin. Namun ternyata lebih dari itu, perjalanan ini banyak menyingkap tabir Sungai Musi yang ternyata mempunyai fungsi yang sangat vital terutama terkait perkembangan pertanian dikawasan perairan yang dijuluki lumbung pangan.

Siang itu, kebetulan saya duduk didepan dekat dengan sang sopir, H. Jamal dan juga seorang Kepala Desa Margorukun, Muara Sugihan yang kembali kedesanya dari Tugas Dinas Ke Pangkalan Balai. Saat memandang lepas kedepan sambil tersentak oleh gelombang Sungai Musi, kami terus menelusuri hilir mulai dari Sungai Musi, Muara Kumbang, Muara Padang dan Muara Saleh. Karena jarak yang sangat jauh dan waktu tempuh hampir 3 jam, kami pun terlibat pembicaraan ringan perihal kondisi kawasan perairan.

H. Jamal, sang sopir menjelaskan, bahwa dia telah 10 tahunan berbisnis jasa angkutan transportasi Sungai Speedboat. Menurutnya, di era tahun 2000-an kebawah, speedboat masih menjadi andalan bagi masyarakat perairan, namun belakangan sudah mulai tergusur oleh kendaraan bermotor. ”Apalagi saat ini beberapa wilayah perairan sudah bisa ditembus oleh darat seperti Telang, Muara Padang dan termasuk Muara Sugihan, namun belum sempurna karena kadang kala becek oleh hujan”, katanya.

Dia juga mengatakan, jika menggunakan perahu cepat untuk ke Palembang pulang pergi harus menyiapkan dana sekitar 200 ribu rupiah, namun jika menggunakan kendaraan bermotor paling banyak sekitar 50 ribu rupiah. Sehingga masyarakat banyak yang beralih ke jalur darat. Namun, keadaan berbeda jika musim panen tiba. Selain jalan darat susah untuk dilalui karena becek, juga banyak para perantau dari pulau Jawa yang mengadu nasib ke Perairan. ”speedboat panen penumpang,’ katanya.

Lain halnya jika musim tanam, H. Jamal menuturkan, jika musim tanam pihaknya mangaku sepi penumpang. Para petani sibuk menggarap lahannya masing-masing. ”Paling-paling mengandalkan pesanan barang dari para petani seperti pestisida dan pupuk,” ujarnya.

Dia juga mengatakan pada musim tanam pesanan pupuk paling banyak dipesan para petani dan biasanya berkelompok. Menurutnya setiap minggunya pasti ada pemesanan pupuk urea dan pestisida. ” Ini menjadi berkah sendiri buat kami disaat sepi penumpang,’ Katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Desa Margorukun Muara Sugihan Romadhon yang duduk disamping, Menurutnya pada musim tanam yang paling susah mencari pestisida dan pupuk. ”Memang ada pupuk bersubsidi, tapi tidak cukup”, Ujarnya.

Dijelaskannya untuk menutupi kekurangan masyarakat harus membeli sendiri atau pesan ke Palembang. Dia menjelaskan untuk melakukan pemesanan pihaknya mengumpulkan para kelompok tani untuk mengetahui berapa banyak pemesanan pupuk.

”Jika jumlahnya banyak pihaknya memesan melalui perahu Jukung Besar, semantara pengangkutannya pada saat kalangan. Namun, jika tidak terlalu banyak, cukup dengan speedboat secara bergilir,” Kata Romadhon

Dia juga mengatakan pemesanan melalui perahu jukung sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan Speedboat, namun membutuhkan waktu yang lama sekitar satu minggu karena menunggu musim pasar kalangan.

Hal ini dilakukan karena kondisi pupuk tidak stabil diperairan terutama di Muara Sugihan. Menurut Romadhon jika musim tanam tiba selalu saja kekurangan pupuk dan kehabisan stok. Jika ada harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan memesan sendiri melalui distributor yang ada di Palembang. ”Harga eceran tertinggi di Palembang 1600 perkg, di Jalur bisa sampai diatas 2 ribuan per kgnya,” katanya.

Harapkan Jalan Darat

Lebih lanjut, Kepala Desa Margorukun ini menjelaskan sebetulnya mahalnya pupuk di Muara Sugihan dan sekitarnya lebih disebabkan oleh problem angkutan. Sampai saat ini pengangkutan pupuk ataupun barang lainnya masih menggunakan perahu sehingga waktu tempuh lebih lama dan memakan ongkos mahal.

Sementara itu, jalan darat belum bisa diandalkan sepenuhnya karena baru bisa ditempuh oleh kendaraan bermotor roda dua. Mobil baru bisa dilalui sampai Muara Padang pangkal.

Pihaknya berharap kedepan pemerintah dapat membangun jalan darat sampai ke Muara Sugihan sehingga kebutuhan pokok petani seperti pupuk dan lainnya dapat lebih mudah. ”Saat ini saja saat musim panas atau kemarau, untuk ke Palembang hanya butuh waktu kurang dari 2 jam dan ongkos paling banyak 50 ribu dan 100 ribu sudah termasuk makan”, ujarnya.

Dengan adanya angkutan darat menurut dia bisa menjadi alternatif masyarakat untuk memperoleh kebutuhan. Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan, impian adanya jalur darat atau angkutan darat bagi masyarakat perairan sudah lama menunggu. ”Sudah 30 tahun masyarakat menunggu tapi belum terealisasi”, katanya

Sementara itu terpisah, Anggota DPRD Sumsel yang mewakili kawasan perairan Slamet Sumosumentono dalam acara Trijaya Prime Topic dengan tema ”Kawasan Pinggiran Jangan Dipinggirkan” menjelaskan pembangunan jalan darat menuju perairan terutama Muara Sugihan sudah lama diperjuangkan namun karena terkendala dana saat ini pembangunan baru sampai di Muara Padang.

Menurutnya khusus untuk jembatan Muara Padang yang menghubungkan Muara Sugihan saat ini telah dibanguan, sehingga untuk ke Palembang bisa menggunakan motor. Untuk menindaklanjuti keinginan warga perairan terutama Muara Padang dan Muara Sugihan, pihaknya akan terus mengusulkan melalui DPRD Sumsel. (Fatur/Trijaya)

Beri komentar