Home » Opini » Menakar Peluang Alex-Nono di DKI 1

Menakar Peluang Alex-Nono di DKI 1

Oleh Solehun, MPD (Dewan Pakar Musi Institute)

Pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono mendaftarkan diri di KPUD DKI Jakarta sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Pasangan yang diusung Partai Golkar, PPP, dan PDS ini mengejutkan banyak pihak. Selain karena sebagai calon dari parpol yang pertama mendaftar di KPUD, Nono Sampono sebelumnya juga sempat masuk kandidat calon gubernur yang lolos seleksi dari Partai Gerindra dan PDIP. Hal lain yang mengejutkan adalah kesiapan pasangan ini dalam menghadirkan program yang dinilai mampu menusuk jantung permasalahan Ibukota selama ini. 

Pada awalnya, pencalonan Alex Noerdin menjadi cagub DKI memang oleh banyak pihak diragukan. Sebab baru akhir-akhir ini dia menyatakan siap maju di Pilkada sehingga popularitasnya belum terlalu tinggi. Di sisi lain Partai Golkar sebagai pengusungnya pun belum cukup kursi mencalonkan sendiri sehingga harus mencari mitra koalisi. Namun kesungguhan, kepiawaian, dan kapabelitas Alex ternyata mampu memupus keraguan itu. Sosok ini akhirnya mampu memenangi persaingan internal Partai Golkar dan sukses menggandeng Nono dengan partai koalisi PPP dan PDS. Di tengah parpol lain masih sibuk otak-atik pasangan, Alex-Nono telah mendeklarasikan diri. Saat parpol lain “ketar-ketir” menghadapi limitasi waktu akhir pendaftaran, pasangan parpol ini telah lebih awal mendaftar di KPUD. Tidak heran jika kemudian keraguan itu berbalik menjadi ketertarikan. Pasangan ini diperhitungkan bahkan dinilai sebagai pasangan “paling siap” dan berpotensi memenangi Pemilukada Jakarta.

Pasangan Alex - Nono Mendaftar Calon Gubernur DKI Jakarta

Dalam hemat penulis, ada beberapa hal yang membuat pasangan Alex-Nono berpeluang besar untuk memenangi Pemilukada Jakarta. Ini setidaknya jika mengacu pada Hasil Jajak Pendapat Kompas, 12-13 Maret 2012, tentang persepsi warga DKI terhadap figur Gubernur baru dan tinjauan teori marketing politik.
Dari Hasil Jajak Pendapat Kompas diketahui bahwa faktor-faktor dominan yang dapat memengaruhi pilihan Gubernur DKI Jakarta adalah pendidikan (74%), usia matang (55,2%), dan ekonomi yang memadai (53,8%). Latar belakang profesi yang paling layak menjadi Gubernur DKI yakni militer (24,3%), pejabat pemerintah (23,3%), akademisi (19,2%), dan tokoh masyarakat (15,1%). Adapun karakter gubernur yang diinginkan berupa tegas (35,2%), jujur (17,6%), tidak egois (10,1%), low profile (5,0%), dan bijak (3,4%). Selanjutnya, program yang harus menjadi prioritas utama gubernur baru adalah kemacetan (36%), kemiskinan (17,6), dan banjir (13%).

Berdasarkan faktor-faktor dominan yang dapat memengaruhi pilihan warga terhadap Gubernur baru DKI Jakarta di atas, pasangan Alex-Nono memiliki modal pendidikan, usia, dan ekonomi yang memadai. Begitu juga terkait latarbelakang profesinya, seperti halnya Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, pasangan Alex-Nono merupakan kombinasi pejabat pemerintah – militer sehingga terkategori paling layak memimpin Jakarta yang terkenal “keras” dan kompleksitas. Pasangan ini, berdasarkan rekam jejaknya, juga merupakan sosok pemimpin yang dikenal memiliki karakter tegas, jujur, tidak egois, low profile, dan bijak. Bicara tentang program yang diharapkan menjadi prioritas utama, pasangan cagub-cawagub yang berani mendeklarasikan “siap mundur jika gagal” ini merupakan pasangan yang pertama mengusung program pengatasan kemacetan dan banjir secara rinci dan terukur. Begitu juga dengan persoalan kemiskinan yang menjadi akar dari masalah kriminalitas, premanisme, permukiman kumuh, dan pengangguran tidak lepas dari perhatian pasangan ini.

Seperti halnya pemasaran barang dan jasa, pasangan cagub-cawagub pun harus dipasarkan kepada calon pemilih agar dikenal, mendapat simpati, dan dipilih. Semua itu mesti dilakukan melalui marketing politic. Di sini, kita mengenal ada tiga pendekatan dalam konsep pemasaran politik yaitu push marketing (pemberian stimulan), pass marketing (pemeranan tokoh masyarakat), dan pull marketing (pemanfaatan media publik).

Sejauh ini kita melihat pasangan Alex-Nono telah merintis ketiga pendekatan itu. Untuk meraih simpati dan dukungan pemilih, lebih cepat dari kompetitor lainnya, pasangan ini telah melontarkan stimulan ke publik melalui tagline “tiga tahun bisa” mengatasi masalah krusial Jakarta berupa macet dan banjir. Tidak hanya itu, pasangan ini juga siap mengatasi kerawanan sosial yang dewasa ini sedang boming di DKI dalam waktu satu tahun, menerapkan program sekolah dan berobat gratis yang telah relatif sukses dijalankan di Sumsel, dan mengangkat kesenian Betawi. Pemeranan tokoh masyarakat untuk berbicara siapa dan kenapa harus Alex-Nono, pun telah mulai dijalankan. Melalui media massa, kita menemukan sejumlah tokoh seperti Jusuf Kalla, Komarudin Hidayat, Muhammad Qodari, Adrinov Chaniago, dan lainnya telah berbicara tentang figur ini. Kandidat ini juga telah lebih dominan running membangun image atau citra positif melalui media massa dan jejaring sosial. Di media nasional misalnya, sejak beberapa bulan yang lalu Alex Noerdin telah tampil di kolom polling Rakyat Merdeka dan Indopos. Di tempo interaktif.com kandidat ini menjadi salah satu fokus pemberitaan. Begitu juga jika kita buka kompas.com, pemberitaan sosok ini terbilang cukup dominan.

Apa yang telah dirintis Alex-Nono di atas tentu menjadi modal awal yang berharga untuk menuju DKI 1. Persoalannya, untuk memastikan kemenangan pada Pemilu DKI Jakarta, pasangan ini masih harus bekerja keras. Ini mengingat Pemilukada kali ini hampir dipastikan diikuti 6 pasang yaitu Faisal-Biem, Hendarji-Riza, Alex-Nono, Jokowi-Ahok, Foke-Nahrowi, Hidayat Nurwahid-Didik J Rahbini. Untuk itu, setidaknya ada lima tahapan brand image yang harus dikuatkan dan disosialisasikan secara luas untuk merebut hati warga DKI.

Pertama, tahap brand awareness. Pada tahap ini kandidat harus memperkenalkan diri kepada pemilih. Pasangan Alex-Nono, parpol, dan elemen pendukungnya harus kerja keras memperkenalkan calon ini kepada pemilih DKI sebagai figur yang berhasil, dengan sederet pengalaman dan prestasinya sebagai modal untuk “membenahi” Jakarta. Rekam jejak Alex Noerdin saat menjabat Bupati Muba dan Gubernur Sumsel harus dipublikasikan maksimal. Nono Sampono sebagai sosok mantan Komandan Paspampres, Komandan Marinir dan “putra betawi” juga mesti dipaparkan ke hadapan warga secara utuh.

Kedua, tahap brand knowledge. Pada tahap ini harus dipastikan bahwa masyarakat DKI Jakarta sebagai calon pemilih sudah mempunyai pemahaman yang utuh dan positif terhadap sosok Alex-Nano. Di sini berbagai instrumen yang dinilai efektif untuk membuat warga memiliki pemahaman yang komprehensif tentang calon pemimpinnya harus dihadirkan secara produktif.

Ketiga, tahap brand preference. Dalam tahapan ini calon pemilih sudah mulai membandingkan antara pasangan Alex-Nono dengan kandidat yang lain. Peran tim sukses dalam menghadirkan “apa yang beda” pada Alex-Nono dibandingkan pasangan lain tentunya akan sangat membantu kesuksesan tahapan ini. Mengingat tipologi warga Jakarta yang secara umum didominasi kalangan kelas menengah, cerdas, kritis, terdidik, dan melek informasi, maka kemampuan tim pemenangan dalam mengemas program-program kampanye secara rasional, terukur, dan memanfaatkan teknologi informasi akan sangat membantu keberhasilan dalam tahapan ini.

Keempat, tahap brand liking. Pada episode ini calon pemilih mulai memiliki rasa suka terhadap kandidat. Memang perasaan suka tidak bisa diukur secara kuantitatif. Namun setidaknya, calon pemilih akan meletakkan rasa kesukaannya atau keberpihakannya kepada calon yang dianggap mampu menyahuti persepsi pemilih terkait figur Gubernur baru DKI. Untuk itu, tim pemenangan Alex-Nono mesti kreatif menjalankan program pemenangan untuk memastikan bahwa calon pemilih benar-benar menyukai kandidat ini, terutama setelah melihat kualitas personal, latar belakang profesi, karakter, dan program kandidat ini.

Kelima, tahap brand loyality. Tahapan ini mengindikasikan adanya kesetiaan calon pemilih kepada kandidat yang akan dipilihnya. Menjaga loyalitas pemilih Alex-Nono merupakan tahapan yang berat dan krusial. Sebab di samping mesti menjaga terjadinya kesalahan sedikit pun yang bisa berdampak pada larinya dukungan, pada tahapan ini juga diperlukan strategi jitu agar basis dukungan yang ada tidak goyah atau “tidak diganggu” oleh kompetitor lain. Karenanya, di sini perlu juga dipersiapkan taktik pertahanan yang dapat menangkis hilangnya suara akibat berbagai bentuk kecurangan seperti money politic, black campaign, negative campaign, ataupun kecurangan lain yang sengaja memanfaatkan struktur penyelenggara Pemilukada.

Kembali ke pertanyaan bagaimana peluang Alex-Nono dalam Pemilukada DKI, nampaknya pasangan ini memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pemenang sekalipun Pemilukada itu harus berlangsung dua putaran. Ini terutama jika berangkat dari kapabelitas yang dimiliki figur pasangan ini dan pendekatan yang telah dijalankan dalam memasarkannya selama ini. Persoalannya, tinggal bagaimana tim pemenangan kandidat ini dapat lebih maksimal mengomunikasikan sederet kelebihan itu ke tengah warga DKI sehingga berdampak besar bagi tingkat elektabilitas calon. Untuk itu, tim pemenangan Alex-Nono mau tidak mau mesti cerdas, kreatif, dan sangat frekuentif dalam menjalankan pemasaran politik. Di samping harus melakukan “serangan udara” dengan memanfaatkan secara intensif teknologi informasi dan komunikasi yang telah menjadi kebutuhan utama masyarakat metropolitan, tim juga harus mampu menjalankan “serangan darat” yang berpijak pada segmentasi pasar, positioning, diferensiasi, branding, dan strategi kampanye yang baik. Sebagai masyarakat Sumsel, kita tentunya mendukung dan mendoakan semoga Alex-Nono menjadi yang terbaik dalam Pemilukada DKI Jakarta. Semua ini ikhlas kita lakukan demi Jakarta yang lebih baik, demi harumnya citra ibukota Indonesia di kancah internasional. Semoga!

Beri komentar