Home » Opini » Dibawa Kemana Banyuasin?

Dibawa Kemana Banyuasin?

Oleh Agus Saputra (Ketua AMB, Birokrat & Dewan Pakar Kajian Pembangunan Rumah Citra Indonesia (RCI Lembaga).

Saat awal membangun Singapura,Lee Kuan Yew sadar sekali bahwa negaranya minim Sumber Daya Alam (SDA) sehingga tak mungkin mereka hidup dari industri pertambangan.

Dia juga sangat sadar lahan negaranya kecil, hingga tak mungkin mereka mengandalkan industri pertanian. Satu-satunya hal yang bisa diharapkan untuk menjadikan negaranya maju hanyalah Jasa dan Pariwisata.

Karena itu, dia menggenjot dunia pendidikan karena dia sadar, pengembangan kota jasa membutuhkan dukungan SDM yang handal.

Singapura kemudian dirubahnya menjadi kota satelit tempat bernaung ratusan perusahaan international. Seiring dengan masuknya expatriat, dia kemudian membangun sentosa island,untuk mengembangkan pariwisata mereka.

Negara lain yang unik adalah selandia baru. Pada saat awal mendapatkan kemerdekaan dari Inggris, Selandia Baru tak sibuk mendirikan industri berbasis tekhnologi. Negara ini hanya mengandalkan hasil pertanian sebagai komoditas utama eksport negara mereka.

Selandia Baru berfokus pada perburuan anjing laut, penangkapan paus, pemanenan lenan liar, pengumpulan getah kauri, dan damar asli.

Mereka kemudian mengembangkan industri kapal laut berpembeku pada 1880-an. Daging, dan hasil-hasil peternakan lainnya diekspor ke Britania. Permintaan yang besar akan hasil-hasil pertanian dari Britania Raya, dan Amerika Serikat telah membantu warga Selandia Baru untuk memperoleh standar kehidupan yang lebih tinggi daripada Australia, dan Eropa Barat yang mencapai puncaknya pada 1950-an, dan 1960-an.

Bagaimana dengan Indonesia?Negara dengan SDA melimpah ini sejak awal gagal fokus terhadap pembangunan. Kita bangga sebagai negara agraris, negara dengan mayoritas petani, tapi sejak awal pemerintah tak fokus mengembangkan industri-industri alat-alat pertanian, bahkan berita hilangnya ratusan hektar tanah persawahan untuk pendirian pabrik malah sering terdengar bahkan hingga saat ini.

Kalau amerika yang katanya negara industri, tapi dalam salah satu film dokumenter saya pernah melihat petani apel mereka memberi pupuk menggunakan pesawat terbang. Di Palembang sendiri pesawat terbang digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan oleh pemerintah, mana ada petani di Palembang ini yang punya pesawat terbang untuk pemupukan. Bahkan Suharto saat awal dengan sengaja melakukan devaluasi rupiah sebagai usaha merayu investor pabrik-pabrik tekhnologi besar masuk yang bukan berbasis pertanian.

Kita bangga memiliki Bali dan pemandangan indah lainnya, tapi bahkan hingga saat ini kita masih harus mengejar ketertinggalan kunjungan wisatawan dari Thailand, Singapura bahkan Malaysia sekalipun yang katanya negara yang sering maling budaya kita yang kaya.

Lantas mau dibawa kemana Banyuasin kita? Kita bisa saja berpura – pura menjadi daerah dengan pabrik-pabrik yang besar atau berpura-pura menjadi daerah metropolis dengan mall yang banyak dan melupakan basis masyarakat kita yang mayoritas petani dengan potensi pertanian yang luar biasa tapi kita akan kehilangan arah fokus pembangunan seperti yang terjadi pada republik ini sejak awal sehingga penerus bupati selanjutnya akan sibuk mengejar ketertinggalan.

Atau kita bisa mulai untuk menjadi wajah Banyuasin sendiri. Daerah lumbung padi nasional. Daerah yang ditopang perekonomiannya dengan kehidupan desa. Daerah yang berkembang dari transmigrasi yang dilakukan puluhan tahun lalu.

Jika Habibie pernah dicaci maki anggota DPR atas penyimpangan Dana Reboisasi puluhan milyar rupiah yang digunakan malah untuk pengembangan IPTN karena menurut anggota DPR, tekhnologi pesawat terbang belum bisa bernilai eksport untuk Indonesia yang mayoritas petani dan meminta agar IPTN dibubarkan, mungkin saja hal itu bisa jadi pembelajaran bagi Banyuasin untuk selalu fokus pada wajah Banyuasin yang sebenarnya.

Terlepas dari fakta bahwa saat ini IPTN yang berubah menjadi PTDI ternyata mampu menjawab tantangan anggota DPR tsb,tapi kasus korupsi dana reboisasi juga merupakan fakta bahwa pemerintah era Suharto gagal fokus terhadap arah pembangunan saat itu.

Jika selandia baru berhasil membawa kemakmuran untuk rakyatnya dengan mengandalkan pertanian. Banyuasin berarti mampu melakukan hal yang sama. (*)

Editor : FK

Beri komentar