Home » Opini » Golkar Menghadapi Problem Milenial - Trijaya FM Palembang

Golkar Menghadapi Problem Milenial

Oleh Fatkurohman, S. Sos (Analis Sosial Politik Rumah Citra Indonesia).

Pemilu 2019 masih menempatkan partai Golkar sebagai papan atas namun secara tren mengalami penurunan suara dari pemilu ke pemilu. Salah satu faktor yakni kurangnya milenial memilih partai beringin ini. Dapat dilihat Dari survei IndexPolitika Tahun 2019 jelang Munas Golkar bahwa Pemilih Golkar Pemilu 2019 sebesar 56,31 persen berasal dari kalangan tua bukan pemilih milenial. Sedangkan pemilih muda antara 17-40 tahun sekitar 43,69 persen dan real milenial umur 17-30 tahun sekitar 25 persenan.

Sedangkan data menunjukan perolehan suara Golkar pada Pemilu 2004 sebesar 21,58 persen, Pemilu 2009 (20,85 persen), Pemilu 2014 (18,95 persen), dan Pemilu 2019 hanya 12,31 persen. Tentunya ini mengkhawatirkan Golkar kedepan jika bonus demografi mencapai puncaknya di tahun 2030 jika tidak segera mencari formula untuk bisa menggaet pemilih milenial ini.

Salah satu persoalan era bonus demografi yakni semakin berkurangnya pangsa pemilih tua yang selama ini jadi loyalis Golkar dalam kancah pemilu. Mau tidak mau Golkar ke depan sudah saatnya untuk bergerilya merangkul kalangan milenial agar perolehan suara Golkar tidak terus-menerus tergerus. Jaman Now sangat identik dengan generasi millenial.

Melihat kondisi ini kader milenial Golkar tanpaknya sudah mulai bangun dari tidurnya, salah satunya dengan membentuk GEMA Golkar dengan melakukan roadshow menyerap aspirasi milenial termasuk di Sumatera Selatan.

Tantangan menggaet milenial tidaklah mudah kedepan melihat problem soal masyarakat tak terkecuali Sumatera Selatan. Lemahnya produk unggulan Sumatera Selatan yakni Karet dan sawit berdampak pada lesunya gairah ekonomi masyarakat termasuk anak muda untuk tetap eksis menjadi petani. Regenerasi petani kita yang menjadi tulang punggung pangan dan ekonomi nasional dalam menghadapi bonus demografi terancam krisis.

Kita lihat hasil Survei tahun 2011 oleh Struktur Onkos Tani (SOUT) sebagian besar petani tanaman pangan 96,45 persen berusia 30 tahun keatas dan hanya 3,35 persen yang berusia dibawah 30 tahun. Sementara hasil kajian koalisi rakyat untuk kedaulatan pangan pada tahun 2016 menyatakan 50 persen petani padi dan 73 persen petani holtikultura menyatakan tak ingin anaknya menjadi petani.

Jawaban ini juga senada dengan sang anak petani yang menyatakan 63 persen anak petani padi tidak ingin jadi petani dan 54 persen anak petani holtikultura tidak ingin jadi petani. Tentu hal ini membahayakan dan menjadi ancaman kedaulatan pangan nasional dimasa akan datang yang ditandai dengan ancaman krisis regenerasi tani yang bakal menyuplai pangan nasional.

Berdasarkan riset Pusat Penelitian Kependudukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2017 dikutip dari Viva membenarkan bahwa Petani Indonesia terancam ‘punah’ jika tidak diatasi karena saat ini rata-rata usia petani nasional mayoritas berumur 45 tahun ke atas.

Digambarkan juga data Food and Agriculture Organization, organisasi pangan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada 2014, pangan nasional dan global diproduksi masing-masing oleh 90 persen dan 80 persen pertanian keluarga skala kecil. Hasil survei ini menjelaskan jika ke depan kondisinya tetap dibiarkan, maka Indonesia bisa mengalami krisis petani.

Ini menjadi tantangan pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah termasuk partai yang memiliki kader di legislatif tidak terkecuali Partai Golkar. Keberadaan pemuda untuk melanjutkan usaha tani keluarga sangatlah penting. Selain untuk menjaga keberlanjutan pertanian. Generasi penerus tani ini diharapkan melanjutkan usaha pertanian keluarga sekaligus menjaga kedaulatan pangan nasional.

Ada beberapa persoalan yang menyebabkan generasi muda tani mengalami alami ancaman krisis yakni kesejahteraan petani yang kurang baik dan kurangnya proteksi produksi pangan nasional oleh pemerintah sehingga tergerus dan kalah bersaing harga dengan hasil pangan impor.

Seringkali kita mendengar para petani menjerit dikala musim panen tiba, harga jatuh sementara pangan impor berhamburan dipasaran. Kebijakan proteksi pangan nasional menjadi penting untuk bisa menggairahkan harga dan mensejahterakan para petani sehingga ini bisa jadi motivasi generasi milenial para keluarga petani.

Selain itu juga ada beberapa kendala yang dihadapi generasi milenial petani seperti akses terhadap sumber lahan yang terbatas, terkendala akses terhadap pelayanan financial (permodalan), dan minimnya akses terhadap pasar serta pengetahuan dan teknologi baru untuk berpartisipasi dalam rantai nilai tambah pertanian untuk menciptakan kemandirian pangan.

Masalah banyak terjadi dipedesaan yang notabene juga menjadi pemilih tradisional partai golkar artinya ancama krisis generasi milenial tani juga masalah masa depan Partai Golkar jika ingin tetap eksis dipapan atas.

Berbeda dengan milenial perkotaan yang masih cukup dinamis bagi partai-partai termasuk partai tengah. Namun bagi Kota yang lebih maju seperti Jakarta, Bandung dan lainnya Golkar semakin tertinggal. Inilah tantangan partai golkar kedepan. Problem milenial perkotaan sangat erat dengan kesempatan lapangan kerja, industri kreatif dan wisata serta wirausaha. Ini yang harus dijawab oleh partai terutama kader yang duduk di legislatif.

Ibarat kata menjawab permasalahan milenial yang harus dilakukan yakni sentuh hatinya jangan abaikan problemnya. Cara yang dilakukan merangkul milenial adalah melalui program pro milenial, menyiapkan kader milenial dan mengadvokasi permasalahan milenial.

Partai golkar untuk bisa eksis kedepan sudah saatnya menyiapkan kader-kader milenial mumpuni didesa-desa dan perkotaan, menyiapkan program yang diinginkan milenial dan mengadvokasi masalah-masalah milenial dari persoalan yang paling sederhana seperti mewadahi eksistensi para milenial.(*)

*.Materi yang disampaikan dalam diskusi roadshow Gema Golkar Di Sumsel,Kamis malam (22/8/2019) di RoCa Coffee.

Beri komentar