Home » Program » Healthy Center » Waspada, Ini Lho Bahaya Stanting

Waspada, Ini Lho Bahaya Stanting

PALEMBANG – Waspada sejak dini, perlu dilakukan pada anak sebab banyak ditemukan kasus kekurangan gizi berlangsung lama yang lebih dikenal dengan istilah stanting dimana tinggi anak lebih pendek dari ukuran sebenarnya.

Stanting ini terjadi pada anak masa pertumbuhan yakni 1000 hari pertama kehidupan anak. Jika tidak diatasi, jangka panjang berpengaruh pada kesehatan dan termasuk prestasi anak karena tidak maksimalnya kerja otak.

Berdasar data Riskesdas, dari 100 persen keluarga miskin, 48,4 persen anaknya stanting. Sementara,  dari 100 keluarga kaya, 29 persen anaknya stanting.

Hanya 36,6 persen anak tumbuh normal atau berasal keluarga sadar stanting.

Dari segi penyebab, 70 persen stanting disebabkan oleh faktor lingkungan dalam hal ini sanitasi atau pola asuh anak sehingga kekurangan gizi, sementara 30 persen disebabkan oleh pola hidup anak akibat kurangnya asupan gizi.

Menurut Praktisi Kesehatan Anak dr. Vivi Septriani, Sp.A, stanting ini jika tidak diatasi bisa menyebabkan prestasi anak kurang baik nantinya pada masa produktif.

Hal ini disebabkan fungsi hormon hipotiroid yakni salah satu gangguan fungsi tiroid yang terjadi, karena kelenjar tiroid kurang aktif memroduksi hormon tiroid.

“Hipotiroid bisa terjadi pada bayi baru lahir atau disebut hipotiroid kongenital dan masa pertumbuhan, salah satunya akibat dari kurangnya asupan gizi atau stanting dikandungan ataupun setelah lahir,”terang Dia, Selasa (4/10/2017).

Hormon tiroid ini memegang peran penting dalam perkembangan susunan saraf pusat di otak, mengatur panas tubuh, metabolisme, serta membantu jantung, otot, dan organ tubuh lainnya befungsi dengan baik.

“Jika ini terganggu pada masa golden age bisa berdampak pada kecerdasan anak dan juga efek lainnya karena otak kurang berfungsi maksimal,”ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Leader IMA World Health  M. Ridwan Hasan mengungkapkan stanting akibat pola asuh anak ini juga terjadi pada anak berasal dari keluarga kaya. Hal ini karena pengaruh gaya hidup berdampak pada asupan gizi anak yang tidak sehat seperti  makanan cepat saji seperti mie instan dan lainnya.

“Sementara dari dilihat pola hidup stanting banyak ditemui dari keluarga miskin sehingga asupan gizi anak kurang diperhatikan,”terang Kang Iwan.

Anak stanting secara kasap mata bisa dilihat dari ukuran berat badan dan tinggi anak. Jika tidak seusai dengan tumbuh kembang dipastikan alami stanting.

“Namun yang lebih membayakan dampak tidak kasap mata yakni terkait perkembangan otak yang kurang normal, jika dibiarkan jangka panjang bisa menyebabkan minim prestasi akibat kerja otak tidak maksimal. Bahkan diusia produktif anak stanting memiliki penghasilan lebih rendah 20 persen dari anak yang tumbuh normal, akibat dari kerja otak tidak maksimal”ujarnya.

Stanting ini juga secara jangka panjang juga tidak hanya merugikan si anak, Negara juga termasuk yang dirugikan. “Data menunjukan kerugian Negara akibat stanting sekitar 3 persen dari produk domistik bruto, jika tahun 2017 sekitar Rp. 12 ribu triliun maka kerugian Negara sekitar Rp. 370 Triliun,”Jelasnya.

Hal ini dilihat dari potensi pendapatan anak dimasa akan datang yang berkurang karena menurunnya produktivitas akibat stanting, mudah terkena penyakit sehingga mempengaruhi beban ekonomi Negara.

Sementara,  Fery Fahrizal, SKM, MKM dari Kabid Kesmas Dinas Keehatan Sumsel juga mengatakan stanting pada anak jangka panjang berpengaruh pada kesehatan dan pertumbuhan otak anak.

“Dalam jangka panjang bisa menyebabkan penyakit berbahaya, seperti jantung,  diabet dan lainnya,”ungkapnya diacara Orientasi Jurnalis, Gerakan Kampanye Gizi Nasional,  Selasa (3/10/2017) di Swarna Dwipa Palembang.

Untuk pencegahan, tidak hanya persoalan gizi anak yang perlu dipenuhi tetapi juga sanitasi lingkungan dan pola hidup ibu-ibu mulai dari anak dikandungan sampai dua tahun.

“Kecukupan gizi ibu hamil, kecukupan Asi minimal 6 bulan baru lahir harus terpenuhi, serta biasakan hidup sehat untuk pencegahan stanting,”ujarnya.

“Namun sebaliknya, jika ibu hamil pola hidupnya tidak sehat serta pemenuhan asi tidak cukup, pola hidup dan pola asuh anak pasca masa asi juga tidak sehat berdampak pada stanting,”terang dia.

Data yang dihimpun Litbang Trijaya FM Palembang dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, angka anak yang alami stanting di Sumatera Selatan masih cukup tinggi yakni sekitar 19,3 persen dengan identifikasi anak bayi yang sangat pendek sekitar 4,7 persen dan bayi pendek 14,60 persen.

“Tertinggi ada di kabupaten Kabupaten Ogan Ilir 28,9 persen dan terendah di Kabupaten Banyuasin sekitar 6,4 persen,”pungkas dia. (FK)

 

 

Beri komentar