Home » Program » Jazz On Trijaya » Jakarta Blues Festival » Bukan Lagi Blues Orang Tua

Bukan Lagi Blues Orang Tua


Jakarta – Panggung besar itu hanya dinaiki tiga orang. Satu gitaris, satu drumer, dan satu keyboardist. Tak terlihat kemudaan usia mereka. Kerut wajah dan uban di rambut tak bisa ditutupi lagi. Tapi begitu melihat permainan mereka, baik individual maupun kolektif, kesan tua lenyap seketika. Permainan mereka begitu menggebrak sepanjang pertunjukan berdurasi satu jam di Djarum Super Jakarta Blues Festival 2010, Jumat malam lalu, itu. Mereka mampu menghadirkan jiwa blues yang mengguncang semua yang hadir.

Sang gitaris, Matt Schofield (ya, tak perlu kaget dengan nama besar ini), begitu lincah memainkan gitar. Jarak antarnada yang dipetiknya hampir tak bersela. Bahkan dalam tempo lambat sekalipun, seperti dalam nomor Lay It Down, Schofield mampu menyuguhkan rangkaian melodi yang rapat sekaligus menghadirkan kekelaman era perbudakan kaum kulit hitam.

Schofield memang tak banyak bernyanyi, dan lebih berfokus pada enam senar yang dipetiknya. Kadang suara gitarnya melengking sangat tinggi, dan sering kali menjangkau seluruh fret gitar. Sangat pantas Guitar and Bass Magazine menobatkannya dalam jajaran 10 gitaris blues terbaik, sejajar dengan nama besar Eric Clapton. Toh, ia tetap tenang, bahkan santai. Ia sempat meninggalkan panggung sejenak dan merapatkan bibirnya dengan kaleng bir, memberikan kesempatan solo bagi dua rekannya, Kevin Hayes (drum) dan Jonny Henderson (keyboard).

Permainan mereka juga tak kalah menakjubkan. Hayes tak hanya mengatur tempo dan mengisi, teknik pukulannya juga memberi warna tersendiri. Henderson juga tampil luar biasa. Dengan organ Hammond, ia mampu menggantikan pemain bas yang nihil, dengan suara yang mempengaruhi detak jantung penonton.

Fenomena menarik yang tergelar malam itu, kebanyakan penonton yang datang ke panggung Schofield adalah anak muda. Sebagian dari mereka ikut bernyanyi saat Schofield bernyanyi. Lainnya pun terlihat sangat menikmati permainan Schofield dan kawan-kawan. “Blues semakin disukai anak muda,” kata penikmat blues, Alex Sutedja, 55 tahun. Kondisi ini, kata dia, makin terlihat dalam festival blues berskala internasional, yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya itu.

Generasi muda juga sempat memenuhi panggung gitaris blues rock gaek asal Korea Selatan, Kim Mok-yung. Memang penampilan Kim luar biasa. Permainan gitarnya begitu menyalak, meski ia hampir tak pernah menggunakan kelingking kirinya untuk menekan senar. Entakan blues-nya juga sangat terasa dan menggetarkan. Kadang ia bermain dalam irama yang berjingkat-jingkat, disertai sedikit staccato. Kadang kala ia sangat santai, hanya mengulang rhythm sederhana, tapi kemudian berubah menjadi sangat keras.

Penonton juga dimanjakan dengan vokal berat-serak yang dikeluarkannya. Bahkan, dalam lagu bahasa Korea sekalipun, lagu yang dibawakannya masih sangat bisa dinikmati. “Just feel the song,” katanya di hadapan sekitar 300 penonton. Dan penonton memang bisa merasakannya.

Penampilan gitaris perempuan asal Yugoslavia, Ana Popovic, pada pengujung acara juga sangat menarik disimak. Awalnya, penonton kurang memberi sambutan sampai pertengahan lagu pertama. Tapi, ketika ia menghadirkan lead melody yang sangat cepat dan melengking-lengking, penonton langsung mengapresiasinya dengan tepukan tangan meriah.

Gitaris 34 tahun yang sudah 19 tahun bermain blues ini begitu meledak-ledak. Permainan blues rock-nya begitu kayak teknik. Salah satunya, jempol kanannya mampu memetik senar dengan sangat cepat tanpa bantuan pick. Rangkaian melodinya pun melesat dari ujung ke ujung. Begitu juga rhythm-nya, cepat dan variatif.

Aksi panggungnya bersama basis Ronald Jon Ker mengundang decak kagum. Sadar dengan kelebihannya, Ana “Rockovitch”, yang tampil dengan kemben emas kusam, celana hitam ketat, dan bot setinggi lutut, seperti menggoda penonton dan meminta tepukan lebih keras. Penonton pun menyanggupinya.

Duet pasangan asal India dalam Soulmate juga mengagumkan. Keduanya begitu garang di panggung. Karakter vokal Tips, si perempuan, begitu kuat. Penonton dibuat terkesima saat ia bernyanyi dengan lirih, lalu tiba-tiba melengking seperti kesetanan. Penuh teriakan, tapi bukan sembarang teriakan. Begitu berenergi tapi hangat di telinga.

Selain para musisi blues di atas, hari pertama pergelaran blues menampilkan sejumlah musisi dalam dan luar negeri di empat panggung yang disediakan. Grup seperti TOR, Yeah Yeah Boys, dan Yuyun George and The Jazmint Big Band tampil menawan.

Sayang, saat acara yang lagi asyik-asyiknya sempat terhenti saat Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo datang membuka pesta blues itu. Para musisi yang tampil harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memancing kembali mood penonton yang sempat meninggalkan panggung. Belum lagi keterlambatan Fauzi mengakibatkan jam manggung mundur.(tmp/trj)

Beri komentar