Home » Program » Jazz On Trijaya » Ngayogjazz » JAZZ JAM SESSION ALA NGAYOGJAZZ

JAZZ JAM SESSION ALA NGAYOGJAZZ

ngayogjazz

Sabtu Wage, 21 November 2015 di desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman kabupaten Sleman Yogyakarta, merupakan penyelenggaraan Ngayogjazz yang ke-9 kalinya. Ngayogjazz digagas pada tahun 2006, oleh seniman  Djaduk Ferianto yang kemudian mengajak beberapa tokoh untuk mewujudkan dan mengembangkan gagasan ini yaitu, Hattakawa, Bambang Paningron, Ajie Wartono, Vindra Diratara, Hendy Setiawan dan Ahmad Noor Arief. Ide dasar dari Ngayogjazz adalah membawa jazz dengan cara yang berbeda dengan masih berpedoman pada sejarah timbulnya jazz itu sendiri yang justru berasal dari masyarakat bawah, karena Ngayogjazz ingin mendobrak pandangan bahwa jazz hanyalah untuk kaum elitis. Langkah ini dilakukan untuk mengadaptasi konsep musik jazz yang berasal dari luar dan direkonstruksi dengan cara yang nyeleneh namun bisa diterima khalayak luas.  Namun tahun tersebut Ngayogjazz batal diselenggarakan karena bencana alam di Bantul.

Ngayogjazz pertama kali berhasil digelar tahun 2007 di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja dengan dasar konsep penyelenggaraan membawa jazz kemasyarakat yang lebih luas. Berturut-turut, Ngayogjazz yang selalu digelar pada bulan November tiap tahunnya berhasil diselenggarakan di Padepokan Bagong Kussudiarjo (2007), di Desa Wisata Tembi (2008), dan di Pasar Seni Gabusan (2009). Tempat penyelenggaraan memang berpindah-pindah di berbagai desa seputar Yogyakarta. Hal ini disebabkan untuk memberikan nuansa yang berbeda dan menggabungkan antara musik jazz dan suasana pedesaan. Festival jazz tahunan yang menampilkan kekhasan Yogyakarta ini kembali batal diselenggarakan pada tahun 2010 karena terjadi bencana alam letusan gunung Merapi yang menyebabkan Yogyakarta tertutup oleh abu. Kepalang tanggung, persiapan Ngayogjazz yang selalu diwarnai dengan semangat, guyub, dan gotong royong diteruskan, sehingga pada tahun 2011, Ngayogjazz diselenggarakan dua kali dalam setahun. Pertama digelar di Pelataran Joko Pekik pada bulan Januari dengan masih dinaungi suasana pasca bencana alam. Penyelenggaraan kedua pada tahun 2011 dilakukan di bulan November, bertempat di Kota Gede.

Ngayogjazz yang dalam penyelenggaraannya selalu melibatkan warga di tempat Ngayogjazz singgah, kembali diselenggarakan sekali setiap tahunnya pada bulan November. Desa Brayut dan Sidoakur menjadi penyelenggaraan Ngayogjazz pada tahun 2012, 2013, dan 2014.

Musisi dan grup band yang pernah tampil di Ngayogjazz diantaranya Syaharani and the Queenfireworks, Idang Rasjidi, Oelle Pattiselano, Tohpati, DewaBudjana, Balawan, Rieka Roeslan, Trie Utami, Iga Mawarni, Glenn Fredly dan masih banyak lagi. Selama delapan kali penyelenggaraan sebelumnya, tampil pula musisi dan band internasional sepertiToninho Horta, Harri Stojka, Mezcal Jazz Unit, Jen Shyu, Jerry Pelegrino, Erik Truffaz, Brink Man Ship, Baraka, dan D’Aqua. Setiap musisi dan band tampil di panggung Ngayogjazz dengan konsep yang menarik. Adanya interaksi antara para penonton dan musisi secara langsung karena jarak panggung dan penonton begitu dekat, membuat musisi dan band tak memiliki sekat dengan para penontonnya.

Di Ngayogjazz, bukan hanya pertunjukan musik jazz saja yang bisa dinikmati, ada penampilan menarik lainnya seperti kesenian tradisional, pantomim, dan juga beberapa atraksi lainnya yang ditampilkan oleh warga setempat dan juga seniman-seniman dari Yogyakarta. Selain itu, pengunjung Ngayogjazz juga dapat menikmati jajanan tradisional buatan warga sekitar yang dijual di area penyelenggaraan.

Di duniamusik jazz dikenal istilah jam session dan improvisasi, dan itulah yang selalu terlihat di Ngayogjazz. Bukan hanya musisi yang tampil di Ngayogjazz yang ber-jam session dan melakukan improvisasi, tapi panitia, penduduk desa yang terlibat dalam penyelenggaraan, hingga penonton, semua melakukan improvisasi dan ber-jam session menyesuaikan diri dengan tempat penyelenggaraan acara di desa, iklim yang tidak selalu ramah, dan suasana yang terbangun.

Itulah menariknya Ngayogjazz, sehingga pengunjungnya selalu bertambah jumlahnya. Tahun 2014, Ngayogjazz dihadiri oleh 26.000 orang dari berbagai usia, bermacam tingkat sosial dan pendidikan, hingga berbagai kebangsaan.

Bhineka Tunggal Jazznya

Event yang bagus selalu memiliki tema dan pesan yang menarik. Ngayogjazz selalu memiliki keduanya. Pada tahun 2015 ini, Ngayogjazz membawa tema “Bhinneka Tunggal Jazznya” yang artinya adalah berbeda-beda tapi tetap disatukan oleh Jazz. Tema ini terinspirasi dari kalimat “Bhinneka Tunggal Ika’ yang diambil dari Kakawin Sutasoma karya dari Mpu Tantular yang arti harafiahnya “beraneka itu satu’

Pesan yang ingin disampaikan dengan tema dan penyelenggaraannya adalah, keberagaman yang ada saat ini bukan menjadi pemisah bagi tiap kelompok ataupun insan manusia tetapi justru seperti sebuah kesatuan yang bisa saling melengkapi. Hal inilah yang tercermin dalam spirit yang dimiliki musik jazz. Meskipun beragam musisinya dan gaya bermainnya, namun saat dimainkan bersamaan, bisa menjadi satu spirit yang memunculkan harmonisasi yang indah.

Logo dari Ngayogjazz 2015 ini adalah burung Garuda yang terinspirasi dari burung Jatayu yang dalam cerita pewayangan adalah burung garuda perkasa yang berusaha menyelamatkan Dewi Sinta. Burung ini juga melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Diharapkan bahwa logo ini menjadi perlambangan yang tepat untuk menyampaikan pesan keberagaman dan harmonisasi dalam Bhinneka Tunggal Jazz-nya.

Desa Pandowoharjo yang dipilih menjadi tempat pagelaran Ngayogjazz tahun 2015 letaknya di Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa ini merupakan desa budaya yang memiliki beragam kesenian tradisional mulai dari bregada, kethoprak, karawitan, mocopatan, wayang kulit, jathilan dan banyak kesenian tradisional lainnya , juga hasil kerajinan-kerajinan tradisonal banyak diproduksi di desa ini, bahkan di desa ini juga masih banyak rumah tradisional yang masih dilestarikan. Tidak hanya itu tapi juga bentuk kebudayaan tradisi seperti gotong royong, bersih desa, nyadran dan lain-lain masih dilakukan oleh penduduk setempat.

Perpaduan antara Desa Pandowoharjo dengan tema Ngayogjazz, Bhinneka Tunggal Jazz-nya, menjadi praktek jam session tersendiri yang kekhasan dan kemeriahan pegelaran ke-9 Ngayogjazz kali ini. Belumlagi improvisasi yang akan terjadi selama acara berlangsung, akan menjadi kejutan yang menarik dan layak untuk dinantikan. Maka kesempatan ini akan menjadi pengalaman yang tak boleh dilewatkan bagi semua untuk ikut membentuk harmoni dalam kemeriahan Ngayogjazz 2015.

NamaArtis

  1. TrieUtami&KuaEtnika
  2. ESQI:EF (Syaharani andQueenfireworks)
  3. IndroHarjodikoro
  4. Yuri Jo Collective
  5. Nita Aartsen
  6. Megan O’Donoghue with GEMATI
  7. Ina Ladies
  8. Vickay with Roedyanto “Emerald BEX”
  9. AgungPrasetyo and Friends
  10. SinggihSanjaya and Friends
  11. AbsurdNation
  12. Three Song
  13. AdieUnyil& The Bawor
  14. IndraAryadiruangakustik feat. Krishna Balagita&ZoltanRenaldi
  15. Ketzia&YusriDinuth
  16. Dexter Band danPanjul
  17. AnsambelMusik“GrhaKreatif”

ArtisJogja

  1. Huaton Dixie
  2. Funky Bop
  3. Subkultur Artificial

Komunitas

  1. Jazz mBenSenen
  2. Etawa Jazz Club
  3. Gubuk JazzPekanbaru
  4. JesUduPurwokerto
  5. Pekalongan Jazz Society
  6. Jazz NgisorRingin Semarang
  7. Solo Jazz Society
  8. Balikpapan Jazz Lovers
  9. Hariono& Friends (Surabaya)
  10. tigasisi | JazzConcept (Magelang)
  11. Sepanjang Kali Malang (Bekasi)
  12. Jogja Blues Forum

KesenianTradisional

  1. Bregada
  2. BambangRabies+anaknya (namaresminyabelumada)
  3. Pantomim
  4. SulapJalanan

MC

  1. LusyLaksita
  2. BambangGundul
  3. Alit JabangBayi
  4. GundhiSsos
  5. Gepeng KK
  6. HendroPlered
  7. FiraSasmita
  8. SantiZaidan
  9. Anggri “Simbah”
  10. DiwaHutomo

Beri komentar