Home » Program » Jazz On Trijaya » The History of Jazz » Musik Jazz Dari Masa Ke Masa - Trijaya FM Palembang

Musik Jazz Dari Masa Ke Masa

Dalam dekade 20-an, yang dikatakan orang sebagai musik jazz, sebetulnya belum tentu dapat dikategorikan betul-betul jazz.

Selain kalangan kaum kulit hitam,hanya orang orang cerdik pandai dan para pemuka gereja atau kaum beragama yang taat ke gereja saja yang berkesempatan menikmati jazz yang sesungguhnya.

Juga bentuk big band di nightclub-nightclub pada zamannya Henderson Big Band,Ellington Big Band dan Louis Russell, pendengarnya hanya para orang kaya yang berasal dari kota-kota besar.

Namun swing membuat moment yang sangat penting bagi sejarah jazz. Swing telah membawa jazz pada alur utama ( mainstream ) dalam kebudayaan USA. Swing menjadi musik populer, yaitu pada zaman keemasan Glenn Miller dan Benny Goodman, sekitar tahun 1941. Hal ini seperti kedudukan musik Beatles pada dekade 60-an.

Pada era swing, jazz sudah mempengaruhi musik pop.Muncul lagu lagu standard pada era ini.Lagu lagu standard itu begitu dikenal oleh masyarakat di dunia. Ada lagu standard yang dibawakan dalam bentuk jazz (swing), dan umum disebut sebagai jazz standard. Namun ada pula yang dibawakan secara pop music yang meniru gaya jazz (berirama foxtrot atau slow fox).

Dalam dekade 60-an, jazz begitu luwes dan supel untuk beradaptasi dengan musik jenis lainnya, hingga terbentuklah berbagai paduan yang disebut sebagai aspek-aspek jazz seperti jazz rock, jazz latin dan sebagainya. Dalam hal ini musisi jazz-lah yang aktif menggaet jenis musik lain untuk dipadukan.

Tetapi di pihak lain, jazz dijadikan obyek untuk dimasukkan ke dalam unsur musik lain. Sebagai misal,salah satu gaya The Beatles dapat dikatakan sebagai ‘siffle’ atau gabungan antara jazz dengan lagu-lagu rakyat.

Dalam coraknya sebagai siffle band, Beatles mendasarkan musiknya pada blues yang diambil dari rekaman penyanyi-penyanyi country blues seperti Bill Broozy dan Muddy Waters. Bahkan jika kita perhatikan,maka musiknya Elvis Presley, Fats Domino,Chubby Checkers, dan musik rock lainnya pada zaman itu, memperlihatkan gejala bahwa banyak band-band yang dibenahi dengan corak musik hitam, misalnya berdasar pada blues commercial jazz.

Dengan demikian, betapa dalamnya rock berhutang budi pada jazz.

Dalam hal ini, para musisi atau tokoh musik jenis lainlah yang aktif, memasukkan sifat/unsur musik jazz ke dalam jenis musik yang dianutnya. Hal itu berlanjut sampai dekade-dekade seterusnya. Misalnya saja Phil Collins atau Genesis yang menggunakan aksen-aksen dan chord-chord jazz ke dalam musik rock, hingga menimbulkan apa yang disebut sebagai art rock.

Demikian juga dengan para musisi musik pop yang ingin mempercantik lagu/musiknya dengan memasukkan (sedikit) sifat/unsur jazz. Mungkin juga seorang musisi jazz yang memainkan musiknya dengan menepiskan / menyederhanakan unsur jazz-nya sedemikian rupa agar mudah sekali dicerna.

Jadilah jazzy.

Itulah tentang kedudukan musik jazz yang pada awalnya dianggap sebagai musik rendah,musiknya kaum hitam yang hina, namun kemudian tumbuh menjadi musik bermutu tinggi, banyak digaet oleh jenis musik lainnya dalam upaya menambah nilai seninya.

Bahkan akhirnya jazz digunakan sebagai sarana bergengsi, karena orang merasa takut dikatakan ketinggalan zaman hanya disebabkan karena tidak mengetahui atau menyukai musik jazz.

Jazz akhirnya dianggap sebagai musiknya kaum elite. (Eko Adji/Ian)

Beri komentar