Home » Program » Jazz On Trijaya » The History of Jazz » PROLOG - Trijaya FM Palembang

PROLOG

Sampai saat ini,masih banyak orang yang belum mengetahui apa musik jazz yang sebenarnya.Banyak orang yang menyebutkan musik jazz dengan istilah ‘irama jazz’. Bahkan TVRI pun pernah menayangkan acara musik jazz dengan tulisan besar yang bunyinya sama, yaitu ‘Irama Jazz’.

Adanya hal yang semacam ini menunjukkan bahwa sementara orang masih belum mengetahui dengan jelas mengenai musik jazz.Akibatnya timbul salah kaprah atau salah mengartikan.

Jazz bukanlah suatu jenis irama (jenis irama adalah waltz,foxtrot,tango,cha-cha-caha,mambo,samba,rumba dan lain lain).

Jazz merupakan salah satu bentuk musik (seperti halnya klasik,keroncong,ndang ndut,pop dan gending/musik tradisional,yang juga merupakan bentuk musik).Menentukan difinisi musik jazz yang tepat memang sulit.

Yang jelas jazz tak dapat lepas dari improvisasi, dan mendengarkan musik jazz bukan hanya dengan telinga,melainkan juga dengan perasaan.Untuk dapat memahaminya, kita harus sering mendengar dan mendalami dengan seksama.

Berawal dari perbudakan di USA, kaum negro diperjual-belikan di Amerika Serikat sebagai budak yang dipekerjakan secara paksa pada perkebunan-perkebunan.Mereka merintih menangisi nasibnya.

Semua itu dicurahkan dalam bentuk seni suara (musik). Jadilah blues yang merupakan manifesto tangis kesedihan budak-budak negro tersebut.

Kemudian berkembang membentuk musik (jazz) yang berakar pada musik blues.Dengan demikian boleh dikata bahwa jazz pada hakekatnya adalah gejolak hati para budak negro yang mendambakan kebebasan.

Kalau kita kaji,musik pop mempunyai kecenderungan pada kemudahan-kemudahan dengan maksud agar dapat diterima oleh khalayak ramai dari segala lapisan.Andaikata musik pop kita umpamakan seperti cerita sandiwara atau drama,maka musik klasik dapat kita misalkan sebagai lakon wayang yang segala sesuatunya sudah diatur dan ditentukan oleh pakem.

Sedangkan musik jazz dapat kita umpamakan sebagai suatu cerita teater, yang visualitasnya diserahkan pada kemampuan si pemain atau improvisasi.

Jadi jelas, jazz tak dapat dipisahkan dari improvisasi (yaitu pentafsiran mengenai maksud isi lagu – yang digambarkan oleh komponisnya – yang diutarakan oleh musisi pembawanya, bukan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya,melainkan sudah diterjemahkan dalam bentuk permainan musik).

Oleh karena jazz bersifat ekspresif,maka manis dan tidaknya suatu improvisasi sangat tergantung pada kondisi musisi yang melakukannya.Kehandalan (pengetahuan dan kemampuan) seorang musisi merupakan penentu bagi manisnya suatu improvisasi, namun kondisi perasaan seorang musisipun sangat berpengaruh besar dalam soal improvisasi ini.

Bila seorang musisi sedang mengalami perasaan yang tak menentu (sedih,resah,dan sebagainya), maka sudah tentu improvisasi yang dihasilkan juga tak akan bagus.

Untuk berimprovisasi, tidaklah ngawur atau asal-asalan seperti pendapat orang awam.Untuk melakukan improvisasi,ada dua macam cara : yaitu ‘Be Bop Approach’ atau ‘Chordal Approach’ yang berdasar pada chord, dan ‘Modal Approach’ yang berdasar pada skill.(Eko Adji)

Beri komentar