Home » Program » Palembang 1st Channel » Pengamat : Alex Noerdin Masih Populer Di Sumsel

Pengamat : Alex Noerdin Masih Populer Di Sumsel

PALEMBANG – Pengamat politik Universitas Sriwijaya (Unsri), Alfitri menilai, kekalahan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin di pilkada DKI Jakarta tidak akan berdampak besar terhadap keikut sertaannya di pemilihan gubernur (Pilgub) Sumsel 2013 mendatang.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin

Bahkan, ia menilai sebagai calon incumbent, peluang menang Alex Noerdin tetaplah besar dibanding calon lainnya.

“Kekalahan itu, tidaklah berdampak, karena masyarakat Indonesia itu, memiliki tipikal melo dramatis, artinya gampang senang (mengingat), tetapi juga cepat untuk melupakan,” nilai Alfitri yang dihubungi.

Menurut dia, di pilgub mendatang paling tidak akan ada enam pasang calon, dan empat dari calon tersebut, kemungkinan diusung oleh partai politik (parpol).
Prediksi ini selaras dengan apa yang dikemukakan Anggota KPU Sumsel divisi Tekhnis, Herlambang sebelumnya.

“Perkiraannya empat calon berasal dari parpol, dan dua calon independen,” ungkapnya.

Prediksi ini, berdasarkan kalkulasi kursi ataupun dari hasil suara 2009, setidaknya ketika menghitung jumlah kursi dari partai-partai yang ada, memungkinkan ada tiga calon yang muncul dan sisa dari partai –partai lain yang berkoalisi akan muncul satu calon.

Prediksi KPU Sumsel ini memang cukup beralasan jika melihat realita yang terjadi saat ini. Jika melihat figur-figur bakal calon yang sudah mulai bersosialisasi setidaknya muncul beberapa nama calon kuat dari beberapa partai ‘besar’ seperti, Eddy Santana Putra dari PDI Perjuangan, Ishak Mekki dari Partai Demokrat, Alex Noerdin dari Partai Golkar, dan Herman Deru yang sejauh ini sudah didukung oleh PKB dan PAN.

Sementara dua calon lainnya yang di gadang akan maju yakni Wagub Sumsel saat ini, Eddy Yusuf, belum bisa dipastikan partai mana yang akan mengusung, dan juga Bupati Musi Rawas, Ridwan Mukti yang juga belum jelas, karena masih akan ‘bersaing’ dengan Alex Noerdin dalam perebutan suara Golkar.

Melihat prediksi ini, menurut Alfitri semakin banyak calon yang akan maju, maka semakin besar peluang calon incumbent untuk menang.

“Dari pengalaman pilkada, calon incumbent akan diuntungkan jika banyak calon yang maju,” kata Alfitri.

Alasannya sambung Alfitri, calon incumbent sudah memiliki popularitas di tengah masyarakat karena sudah menjabat sebagai gubernur. Namun katanya, popularitas ini tidak serta merta diikuti oleh ekektabilitas.

“Calon incumbent selama beberapa tahun menjabat, tentu sudah melakukan sosialisasi yang tentunya berdampak terhadap popularitas, tetapi meski demikian, ia juga belum tentu memiliki elektabilitas yang tinggi,” ungkap dia.

Alasan kedua kata Alfitri, jika melihat calon calon yang akan maju di pilgub nanti, merupakan kepala daerah di kabupaten/kota. Hal ini akan menguntungkan calon incumbent karena akan memecah suara. Namun katanya, situasi akan berubah jika calon-calon itu bergabung seperti Eddy Santana gabung dengan Herman Deru.

“Kalau mereka bergabung, ini tentu akan menjadi ancaman bagi calon incumbent, karena kekuatan suara mereka (penantang, red) akan menguat,” nilai Alfitri.

Disisi lain, ditanya jika mekanisme pilgub berubah, atau dengan kata lain dipilih langsung oleh anggota DPRD Provinsi? Alfitri menilai, partai partai besar semacam PDI Perjuangan, Demokrat dan Golkar akan lebih diuntungkan. Karena, memiliki banyak kursi di DPRD Provinsi.

“Kalau dengan mekanisme itu, kunci kemenangan, tinggal bagaimana partai-partai besar itu melakukan lobi politik dan berkoalisi dengan partai menengah semacam PKS dan PAN,” tutup Alfitri sembari mengatakan, dengan mekanisme itu, peluang menang calon gubernur akan sangat bergantung terhadap lobi politik calon dan partai. (Morino)

2 komentar untuk “Pengamat : Alex Noerdin Masih Populer Di Sumsel”

  1. adi wijaya

    Tolong infokan sarimuda juga dong kira2 gimana perolehan suara dan pendukung

  2. ikan sepat,
    ikan gabus,
    no 4,
    paling bagus,

    febri, buay rawan,

Beri komentar