Home » Program » Profil Minggu Ini » Kisah Irwansyah : Dari Jual Martabak Hingga Walikota

Kisah Irwansyah : Dari Jual Martabak Hingga Walikota

PANGKAL PINANG, BP -Muhammad Irwansyah, S.Sos, M.Si yang lahir di Bangka, 1 Juni 1983 atau dikenal dengan nama panggilan Wawan, adalah seorang politisi Indonesia yang berasal dari kalangan pengusaha.

Ia adalah Wali kota Pangkalpinang periode 2013–2018 yang sebelumnya diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Hanura, juga didukung oleh PKS dan Nasdem.

Pelantikan jabatan dilaksanakan oleh Gubernur Bangka Belitung, Rustam Effendi, di Ruang Paripurna DPRD Kota Pangkalpinang, Kamis, 14 November 2013.

Selama dua tahun menjabat sebagai wali kota Pangkalpinang, kota tersebut telah mendapat beberapa prestasi. Namun jauh sebelum semua pencapaian itu, Wawan adalah putra Daerah Pangkalpinang yang harus merantau ke Jakarta, harus memulai semuanya dari nol, mulai dari menjadi penjual martabak, sales tiket pesawat, hingga akhirnya mendapat karier cemerlang di dunia politik.

Di tengah perkembangan pesat jualan martabak, tawaran datang dari Sriwijaya Air pada akhir 2003. Wawan tak menolak. Ia bergabung di bagian sales dan marketing. Intinya, jualan tiket. Saat itu, tiket pesawat tak didapat semudah sekarang. Belum ada sistem online.

Wawan harus door to door agar targetnya tercapai. Pelan tapi pasti, karier Wawan menanjak. Pada tahun 2005, dia dipindahkan ke Palembang untuk pengembangan usaha Sriwijaya Air.

Di sela pekerjaan, pria asli Bangka ini kembali berbisnis martabak. Kali ini bukan usaha sendiri, tapi franchise. Pada tahun 2007, di tengah pesatnya jualan martabak dan menjadi manajer Sriwijaya Air, Wawan mendapatkan peluang istimewa yakni mengoperasikan ground handling di Bandara Palembang. Dia didapuk menjadi direktur.

Kesibukan Wawan bertambah setelah diajak masuk PDIP. Suami Dessy Ayu Trisna ini diplot sebagai bendaraha PDIP Babel. Nah, pada tahun 2013, tiba-tiba dia diminta mencalonkan diri sebagai Wali Kota Pangkalpinang.

Selain PDIP, Wawan diusung Hanura, PKS dan NasDem. Tapi dukungan ini tak otomatis membuat proses pencalonan gampang.

Tak ada yang mau menjadi pendamping Wawan. Sebab, Wawan mengajukan syarat cukup berat, pendampingnya harus PNS, berpengalaman, dan sevisi.

M Sofyan, pendamping Wawan memang PNS murni. Pria 52 tahun itu malang melintang sebagai abdi negara dengan jabatan terakhir sebagai Camat Rangkui.

Wawan dan Sopian menghadapi 7 pasangan lawan kuat. Salah satunya adalah incumbent. Yang lain politikus dan pengusaha. Wawan dan pasangannya menang tipis.

Sempat terjadi polemik di penghujung Pilkada Pangkalpinang, ketika Muhammad Irwansyah berhasil mendapatkan suara terbanyak dan tinggal menunggu waktu saja untuk dilantik menjadi Wali Kota Pangkalpinang terpilih, pasalnya umur bapak tiga anak ini dinyatakan tidak memenuhi persyaratan KPU Pangkalpinang, yaitu minimal 30 tahun pada saat pendaftaran.

Keputusan KPU Pangkalpinang ini menyelisihi dengan undang-undang 12 tahun 2008, yang merupakan revisi terbatas dari Undang-Undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Dalam pasal 58 atau pasal yang menekankan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, syarat usia minimal seorang pasangan calon bupati atau wali kota adalah 25 tahun, sedangkan usia minimal pasangan calon gubernur adalah tetap 30 tahun.

Namun akhirnya polemik ini berakhir dengan dilantiknya Muhammad Irwansyah sebagai wali kota termuda saat itu (November 2013), sebelum akhirnya posisi wali kota termuda ini digantikan oleh Wali Kota Tanjung Balai, M.Syahrial, yang terpilih pada Desember 2015. (FK/BP/Tri/Foto : IST)

Beri komentar