Home » Program » Sastra On Trijaya » BELAJAR JADI GURU SEJATI

BELAJAR JADI GURU SEJATI


BELAJAR JADI GURU SEJATI
Oleh : Ribut Achwandi

Kalau sampèyan pengin jadi guru sejati, belajarlah pada Punakawan. Mereka itulah cerminan bagi guru yang sebenarnya. Mereka tidak sekadar bisa muruk atau mulang, melainkan pula bisa ‘momong’. Mereka bukan sekelompok orang yang suka pamer kapintêran lan kasêktén, melainkan orang-orang yang selalu hidup dalam kesederhanaan. Karena sadar, bahwa kapintêran lan kasêktén itu bukan ukuran derajat seorang manusia. Bahkan, kalau ditanya soal pangkat dan jabatan, hampir-hampir mereka tidak memiliki jabatan ataupun atribut kepangkatan. Sama sekali tidak pernah ada dalam kamus kepunakawanan tentang kata ‘pangkat’ dan ‘jabatan’. Bukan lantaran mereka enggan untuk berebut jabatan atau pangkat, melainkan mereka lebih memilih menjalani hidup dan mendermakan hidup mereka sebagai pengabdi. Mengabdi dengan keikhlasan, tanpa pamrih. Bersetia dengan yang diêmong.
Mereka memahami bahwa urip mulya lan mukti itu hanya dapat dijalani dengan proses yang tidak cukup hanya dengan benar tetapi juga harus baik. Proses yang dinamai sebagai laku. Laku kabudayan lan manêmbah maring Gusti Kang Murbéng Dumadhi. Dengan begitu, seorang guru sejati akan benar-benar mampu mendermakan segala pengetahuannya dan segala kemampuannya guna terciptanya harmonisasi kehidupan yang dalam masyarakat kita kenal dengan sebutan guyub.

Guyub tidak sekadar bisa saling bertegur sapa melainkan pula saling dapat memahami satu sama lain. Guyub bukanlah sebatas bagaimana kita saling menjaga sikap. Sebab, sikap yang kita tunjukkan belum tentu dapat menjadi tolok ukur laku. Bisa jadi, sikap hanya sebuah perilaku semu. Basa-basi, atau hanya sebuah kepura-puraan. Pura-pura baik, atau pura-pura tidak baik. Guyub bukan ladang persemaian kepura-puraan melainkan sebuah ladang keberterimaan kita terhadap segala sesuatu, baik yang ada di dalam diri kita maupun pada orang lain. Dengan begitu, menjadi sebuah keniscayaan bahwa guru bukan sekadar kalungguhan (sebuah posisi) melainkan sebuah pendermaan. Guru adalah sebagian dari laku bukan sekadar pekerjaan. Karena sebuah laku, maka guru seyogyanya memiliki daya cipta, rasa, dan karya bukan sekadar kerja. Guru adalah sebuah proses berkarya bukan sekadar sebuah mata pencaharian. Karenanya, guru itu tidak cukup hanya dengan dicetak melainkan pula harus dilahirkan. Dilahirkan dari rahim yang penuh kasih sayang, yang dijaga dengan penuh keikhlasan tidak cukup hanya dengan tanggung jawab. Rahim yang membuahkan kebijaksanaan. Rahim yang sekaligus menjadi kawah candradimuka, kawan yang dijaga para resi dan orang-orang pilihan.
Begitu pula dengan para punakawan, mereka lebih memilih mendarmakan diri dalam laku. Mereka tidak butuh disebut sebagai apa dan siapa, melainkan hanya melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya untuk diri mereka, melainkan untuk orang lain dan orang banyak. Tidak memperhitungkan pula berapa besar keuntungan dari apa yang sudah mereka lakukan, sebab barangkali saja mereka sebenarnya pernah sakit hati kepada bêndara-nya – para putra Pandhu, yang terkadang tidak merespon aspirasi mereka. Tetapi, mereka tidak menciut untuk tetap mengingatkan dan ngêmong. Sebab, mereka sadar, mereka hanya pêndhérék, abdi. Dan mereka sadar, bahwa pada hakikatnya semua manusia hanya pêndhérék. Semua adalah abdi. Para penguasa, sejatinya adalah abdi. Karena yang harus mereka lakukan adalah menciptakan suatu keniscayaan bagi rakyatnya, bagi negerinya, tentang kehidupan yang lebih baik. Tidak cukup hanya mengatur dan mengelola, melainkan pula butuh kreatifitas dalam mendayagunakan segala kemampuan dan kemauan untuk sebuah perubahan nasib. Perubahan nasib bersama, bukan nasib pribadi.
Begitu pula dengan para guru, mereka adalah orang-orang pilihan, yang dilahirkan menjadi seorang guru. Menjadi seorang seniman kehidupan. Karena dari kelembutan kasih sayang mereka, denyut nadi kehidupan menjadi harmonis, menjadi lebih indah. Sebagai seorang seniman, maka sudah sewajarnya jika guru mampu memandang keindahan tidak hanya dalam rupa, jauh lebih dari itu, guru mampu menyelami keindahan dalam kaidah yang beragam. Bahwa keindahan tidak semata ditafsirkan menjadi satu suara, melainkan tercipta dari perbedaan yang menimbulkan harmonisasi.

BIODATA PENGIRIM
Nama : Ribut Achwandi
Tempat Lahir : Pekalongan
Tanggal Lahir : 28 Agustus 1980
Alamat : Landungsari Gg. 19 RT. 02/RW. VI No. 28 Pekalongan
Kode Pos : 51129
No. Hp : 081575608325
Alamat email : kigeger@yahoo.com

Beri komentar