Home » Program » Sastra On Trijaya » CEKAL

CEKAL


KRB – Kang Riboet Bilang

CEKAL
Oleh : Ribut Achwandi

Suara batuknya begitu khas. Semua pasti kenal suara itu. Dalam dan keras. Ya, itulah suara batuk Semar. Orang-orang menyebutnya Semar karena memang hidupnya serba samar. Tak jelas. Kalaupun disebut laki-laki, ia punya tampang seperti seorang perempuan tua. Sebaliknya, kalaupun ia disebut perempuan, kenapa pula suaranya sangat kelelakian. Yang jelas, ia seorang single parent dari tiga orang anaknya. Gareng, Petruk, dan Bagong. Meski sebenarnya, anak kandungnya hanya seorang, yaitu Bagong. Tetapi, orang-orang tidak mau ambil pusing soal siapa anak Semar sesungguhnya, dan siapa pula ibu dari Bagong, semua tak memedulikan soal itu. Orang-orang lebih mengamati pada setiap omongan Semar di media-media negeri Hastina.
Memang, dia bukan seorang politisi, pakar, budayawan, atau bahkan seorang selebritis. Tetapi namanya terus melejit bersamaan dengan setiap kalimat-kalimatnya yang menghebohkan negeri Hastina. Penuh kritik namun tetap saja menggelitik. Penuh makna namun tetap saja terasa ringan tanpa beban. Penuh maksud namun tetap saja tak membuat orang lain tersudut. Tapi, tak satu pun kalimat yang diluncurkannya mengandung wasangka, malah lebih jenaka ketimbang para komedian negeri Hastina yang selalu manggung di acara istana atau selalu nampang di acara-acara televisi negeri Hastina.
Semar, bagi kebanyakan orang-orang kampung di pelosok Hastina lebih dikenal sebagai seorang begawan yang lucu. Begawan yang humanis dan humoris, istilahnya. Tidak menampakkan kecerdasannya, meski sebenarnya ia cerdas. Tidak menampakkan kewibawaannya, meski sebenarnya ia sangat disegani. Begitulah Semar.
Tetapi pada sebuah pagi, ketika kicau burung prenjak menghampiri pagi, Semar dikagetkan oleh sepucuk surat yang tergeletak di atas mejanya. “Gong…Bagong! Siapa yang menaruh surat di atas meja Bapak, Gong?” tanya Semar.
Dengan tergopoh-gopoh Bagong yang baru saja selesai mandi langsung muncul di hadapan Semar, ayahnya. “Nggak tahu Ma! Mung…mungkin Kang Petruk, Ma. Soalnya tadi yang ada di ruangan ini cuma Kang Petruk, Ma,” jelas Bagong seraya mengelap seluruh kujur tubuhnya dengan handuk buatan Gareng.
“Mana dia? Mana Petruk?”
“Kang! Kang Petruk! Ki loh dipanggil Rama!” seru Bagong.
“Saya itu nanya, bukan memintamu memanggil Petruk, Gong. Yang namanya nanya itu mestinya dijawab,” sergah Semar.
“Eh, sori Ma.”
“Sekarang di mana Kakang-mu Petruk?”
“Nggak tahu Ma,” jawab Bagong.
“Ck…ck…ck… lha mbok ya dari tadi dijawab begitu. Nggak usah teriak-teriak,” kata Semar.
“Emmm Ma, itu surat dari siapa to, Ma?” tanya Bagong iseng.
“Lah mboh Le…. Mana Bapak tahu wong belum dibuka kok. Apalagi tidak ada kop dan alamat pengirim surat yang jelas, Le.”
“Wah, jangan-jangan itu salah alamat loh Ma,” tukas Bagong.
“Nggak mungkin, wong jelas-jelas kepadanya itu buat Bapakmu kok.”
“Atau suratnya palsu Ma?”
“Mana ada surat palsu?”
“Helah, Rama kurang piknik! Di negeri sebelah, ada loh Ma surat palsu. Lah apik to? Surat kok bisa palsu segala? Jadi, Ngastina sudah ketinggalan zaman Ma. Nggak ada surat palsunya!” kata Bagong.
“He he he…. Iya ya Le, lah bagaimana nggak ketinggalan zaman, wong di Ngastina itu kan baru rame-ramenya uang palsu, gigi palsu, paspor palsu, dan ijazah palsu. Ya to?”
“Makanya Ma….siapa tahu ini dampak domino dari wacana surat palsunya negeri sebelah Ma. Kemudian merembet ke Ngastina. Jadi trend istilahnya!”
“Waduh! Lah terus piye Le?”
“Loh, sekarang itu zamannya zaman pengaruh Ma. Setiap isu besar akan menggejala menjadi wabah budaya loh Ma. Lah kenapa bisa begitu? Karena ini adalah efek dari apa yang dinamakan sebagai zaman tanpa dimensi Ma. Ruang dan waktu sudah tidak dianggap penting. Pengendalian strategi kekuasaan hanya berlandaskan pada aspek kecepatan. Siapa cepat, dia dapat Ma,” Bagong berteori.
“Welah…. Bahasamu kok dhuwur banget to Le…. Bapak sudah tua….sudah nggak mudeng dengan model istilah-istilah begituan. Coba diperjelas lagi Le.”
“Waduh, bisa kena roaming beneran ni Ma. Apalagi pakai loading lama.”
“Wis to, nggak pakai istilah yang aneh-aneh lagi to, Gong…,” seloroh Semar.
“Oke deh Ma…. Maksud saya begini Ma. Sekarang itu, zaman serba cepat. Siapa yang cepat menguasai maka dia yang punya kesempatan dan peluang untuk memengaruhi, Ma. Nah dengan cara apa biar bisa cepat menguasai, tentunya dengan menguasai media to Ma,” jelas Bagong.
“Loh tetapi itu kok nggak terjadi padaku Gong? Padahal aku kan sudah bolak-balik nampang di media, Gong?”
“Ha ha ha….Rama itu memang populer. Tetapi nggak menjual, Ma. Nggak fashionable Ma…. Nggak gaul! He he he…!” ucap Bagong setengah meledek.
“Ya, mungkin karena aku sudah kelewat zamannya ya Gong?”
“Zaman itu memang nggak akan pernah tepat Ma. Bagi siapa pun, zaman selalu tidak bisa menerima yang sudah usang. Serba salah Ma, serba salah! Mau ngikuti zaman dikira gila. Nggak ngikuti zaman dikira nggak gaul. Ya to Ma?”
“Tumben kok rada bener nalarmu, Gong. He he he!”
Suara batuk Semar mulai lagi. Tangannya yang renta, terus membolak-balik amplop surat itu. Sementara kedua bola matanya, terus bergelut dengan rasa penasarannya yang kian membesar. Semar mencoba menerawang isi surat itu. Pikiran dan perkiraan-perkiraannya terus berloncatan di ruang nalarnya. Menebak-nebak dan terus menebak.
“Dibuka saja, Ma… biar nggak penasaran!” kata Bagong.
Pelan jemari Semar mulai merobek amplop surat itu. Amplop tanpa nama dan alamat pengirim. Pelan sekali Semar mengeluarkan kertas dalam amplop itu. Lipatannya rapi. Di lihatnya secarik kertas itu. Semar pelan dan hati-hati membuka tiap lekuk lipatan kertas itu. Pada bagian atas surat tercantum sebuah kop bertuliskan sebuah nama lembaga semi otonom pemerintahan. Namanya, Dewan Moral Bangsa Hastinapura disingkat Demo Banghas.
Cermat Semar membaca surat itu. Telaten. Ia tidak melewatkan satu huruf pun. Dan benar saja, ada salah eja dalam surat resmi itu. Satu kali kesalahan. Nama Semar ditulis menjadi Smar. Ia pun terkekeh. Ya, meski hanya satu kali dalam untaian kata yang tertera dalam surat itu. Tetapi bagi Semar itu tetaplah fatal. Kesalahan yang tidak bisa dianggap enteng. Pemakluman hanya akan membuat sebuah kesalahan menjadi dianggap wajar, pikir Semar. Sebab, hukum manusia selalu ditautkan dengan hal-hal yang otentik. Orisinil. Bukan imitasi ataupun modifikasi. Karenanya ketika ia mendapati salah ketik nama, maka salahlah maksudnya.
Tetapi itu hanya satu kali. Tidak berkali-kali. Di dalam surat itu tercantum nama Semar empat kali. Satu kali salah ketik. Bisa jadi ada dua orang yang berbeda dimaksudkan dalam surat itu. Meski Semar tahu maksudnya hanya ada satu orang.
Kini pandangan matanya merambat sampai pada baris tengah. Hingga pada satu kata tatapan matanya pun terhenti. Pandangan matanya direm mendadak. Tertulis di dalam surat itu sebuah kata dengan dicetak tebal ‘CEKAL (CEGAH DAN TANGKAL)’. Ya, Semar kena CEKAL!
“Gong, Bapak nggak salah baca to, Gong?”
“Loh bagaimana saya bisa tahu kalau Rama salah baca atau tidak. Wong sejak tadi Rama belum menyuarakan isi surat itu kok.”
“Ini loh, Gong! Lihat!” jari telunjuk Semar bergetar saat menunjukkan kata CEKAL dalam surat itu pada Bagong. “Dan coba baca juga yang ini!”
Bagong membaca isi surat itu dengan keras, “Mengingat aksi porno dan ketidakjelasan identitas atau ketidakjelasan jenis kelamin Ki Lurah Semar, maka kami atas nama penegak moral bangsa Hastina meminta agar Saudara Ki Lurah Semar tidak lagi tampil di depan umum apalagi di media-media negeri Hastinapura. Hal ini sebagai upaya pencegahan dan penangkalan terhadap degradasi moral yang semakin parah di negeri ini.”
Nampak Semar lemas. Semar habis tenaga.
“Loh Ma, kok jadi begini to, Ma?” Kata Bagong gusar. “Apa ini nggak salah?!”
Semar diam.
“Ini salah, Ma! Salah!”
Semar belum mau berkata-kata.
“Rama harus ajukan gugatan, Ma! Ini salah!” kemarahan Bagong mulai menjadi. “Mereka pasti keliru! Bukankah seharusnya orang macem Drona dan Sengkuni itu yang mestinya dicekal, Ma! Mereka itu kan korup! Masa, seorang koruptor nggak dicekal, Ma?”
Kali ini tubuh Semar kian lemas. Segera ia ambil tempat duduk dan langsung meletakkan pantat dan sekujur punggungnya di atas kursi itu, tanpa daya.
“Katakan! Katakan, Ma, kalau ini salah! Katakan, Ma!”
“Tidak, Le. Tidak ada yang salah dengan ini semua, Le.”
“Kalau begitu, biar aku, Kang Petruk, dan Kang Gareng yang ngomong kalau ini semua salah besar! Bagaimana, Ma?”
“Tidak, Gong. Tidak! Jangan.”
“Bagaimana bisa aku terima, Ma. Rama dikatakan sebagai biang kerok soal degradasi moral bangsa hanya karena mereka melihat tampilan Rama. Apa mereka semua sudah buta? Apa mereka semua sudah tidak punya hati? Cobalah Ma, lihat. Di istana banyak orang-orang berpenampilan perlente, berdasi, berjas, bahkan rapi dan elegan. Tetapi, nyatanya, mereka lebih bejat, Ma. Nggak punya moral! Bergundalan! Tapi apa ya mereka dicekal? Nyatanya nggak, Ma. Malah mereka yang bergundalan itu masih saja suka nampang di televisi, Ma. Membuai rakyat dengan pidato-pidatonya. Najis!” kata Bagong.
“Hus! Jangan suka menuduh dan menghina orang macam itu to, Gong. Tidak baik.”
“Bukan menuduh dan menghina, Ma. Tetapi aku sedang mengungkapkan sebuah fakta, Ma. Kasunyatan!” bela Bagong.
“He he he…. Bukankah tadi kau bilang kalau kenyataan itu menyakitkan?” kata Semar.
“Maksudnya, Ma?”
“Kau katakan bahwa zaman selalu saja tidak tepat bagi siapa pun. Mungkin ini pula akibatnya. Ketika zamanku telah usai, maka digantilah dengan zaman lainnya. Zaman yang lebih progresif katanya. Tata nilai selalu diubah dan digubah, sebagaimana manusia menciptakan zaman, Le. Jelas, ukurannya pun berbeda.”
“Itu artinya apakah Rama hanya akan pasrah begitu saja?”
“Bukan begitu, Gong. Bukan. Kita perlu ingat, Gong, kita cuma abdi. Karenanya, kita hanya bisa manut dan patuh, Le,” kata Semar.
“Walau harus nyemplung sumur?”
“Jangan berlebihan, Gong!”
“Berlebihan bagaimana, Ma?”
“Ingat, Gong. Kita tidak sedang hidup dalam kebebasan mutlak. Kita hidup dalam batas-batas ruang dan waktu. Kalau pun putusan itu bisa dianggap benar atau bahkan dibenarkan, kenapa harus mempergunjingkannya? Kita masih punya ruang dan waktu sendiri, Gong. Ruang dan waktu yang bukan tempat mereka. Kita saksikan saja akan seperti apa negeri ini. Nggak perlu pembelaan. Cukup diam dan melihat. Tetapi, kita musthi terus bergerak, Gong. Bergerak untuk menyadarkan orang-orang. Kita kerjakan saja apa tugas kita, dan biarlah mereka sibuk menafsirkan keberadanku,” kata Semar lirih.
“Rama kecewa?”
“Tidak. Biar pun harus dikalahkan.”
Ucapan Semar terasa menggetarkan. Bagong tertunduk diam kali ini. Tidak satu pun kata dapat diucapkannya. Ya, mengakui kekalahan bukanlah sesuatu yang gampang. Meski sebenarnya kekalahan harus ditebus rasa sakit yang teramat.

BIODATA PENGIRIM
Nama : Ribut Achwandi
Tempat Lahir : Pekalongan
Tanggal Lahir : 28 Agustus 1980
Alamat : Landungsari Gg. 19 RT. 02/RW. VI No. 28 Pekalongan
Kode Pos : 51129
No. Hp : 081575608325
Alamat email : kigeger@yahoo.com

Komentar ditutup.