Home » Program » Sastra On Trijaya » Politik Dadu

Politik Dadu


POLITIK DADU
Oleh : Ribut Achwandi

Ki Lurah Semar baru saja mendapat kabar. Katanya, Yudhistira kalah main dadu melawan Kurawa. Alhasil, taruhan kehormatan Drupadi pun terlucuti. Namun, Krisna telah menolong mereka dari bencana yang memalukan itu. Kontan sebagai rakyat jelata Ki Lurah Semar sudah layak kalau ia marah. Tetapi ia tidak marah. Bahkan tidak sempat mengumpulkan massa dalam jumlah ratusan sampai ribuan. Ki Lurah Semar malah berusaha menemui bendara-nya itu. Dengan begitu santun Ki Lurah Semar berkata, “Ngger para putra Pandhu, kekalahan kalian dalam permainan dadu itu sudahlah cukup untuk dijadikan pelajaran besar bagi Pandawa. Jangan diulang kesalahan yang sama. Sebab, itu akan sangat mengecewakan rakyat Indraprasta. Kalian mesti ingat, politik itu memang bisa saja ibarat meja judi. Siapa mau berpolitik maka dia harus bertaruh. Tetapi, kalau itu dilakukan maka sebenarnya keliru dan salah besar. Politik tidak untuk dipertaruhkan. Pertaruhan hanya akan menjatuhkan martabat dan kehormatan kalian sebagai ksatria, Ngger.”
“Paman Semar, kami sadar, kami khilaf. Maafkan kami, Paman.” kata Yudhistira.
“He he he… ini bukan soal salah atau benar. Tetapi ini soal prinsip, Ngger. Yang namanya politik, bukanlah barang main-main melainkan sebuah titah agung. Penuh tanggung jawab. Kalian dititahkan memimpin bukan hanya mengepalai sebuah kerajaan. Makna memimpin itu, kalian harus bisa mengendalikan dan mengarahkan rakyat ke jalan yang baik dan benar. Karenanya, kalian harus memberi keteladanan bukan merusak tatanan. Sistem boleh diubah, tetapi tatanan kehidupan harus dijalankan. Sebab, sistem hanya sebuah cara untuk memudahkan kekuasaan dalam mengelola kekuasaan itu sendiri. Dan ingat Ngger, kekuasaan itu untuk mengelola bukan hanya sekadar mengatur. Kalau cuma ngatur, niscaya kekuasaan semakin tidak akan mendapatkan legitimasi dari rakyat.”
“Apakah rakyat Indraprasta sudah begitu sulit untuk diatur, Paman?” pertanyaan Yudhistira itu rupanya membuat Ki Lurah Semar terkekeh.
“He he he… Sampeyan itu kok ya masih berpikir cekak. Yang namanya rakyat itu bukan nggak mau diatur, melainkan harus dikelola. Sekali lagi Ngger, dikelola. Bukan diatur.”
“Tetapi dalam mengelola itu butuh yang namanya mengatur to, Paman?” sahut Bima.
“Ya ya, mengatur boleh saja. Tetapi bukan memaksa loh ya…. Aturan itu baru dinamakan kebijakan bila ada kesepahaman antara rakyat dengan penguasa. Artinya, dalam mendialogkan aturan maka perlu memerhatikan pula persoalan kebudayaan masyarakat. Harus ada kompromi dengan rakyat. Bukan hanya membuat jadi aturan sebagai hukum yang baku. Tetapi perlu adanya dialog kontempelatif dengan alam pikir rakyat, Ngger.”
Belum selesai Ki Lurah Semar berbicara, tiba-tiba Gareng – anak tertua Ki Lurah Semar – menyela, “Sebentar Rama, saya interupsi! Pertanyaan Raden Werkudara ini membuat saya curiga loh Ma.”
“Curiga?” tanya Semar.
“Ya Rama. Saya curiga jangan-jangan Pandawa main dadu itu gara-gara bosen ngatur rakyat Indraprasta. Sebab, yang namanya dolanan apalagi yang dolanan mereka yang sudah berumur, menandakan bahwa mereka sedang stress. Lah, bisa saja mereka ini sedang stress mikir rakyat. Jadi main dadu itu sebuah pelarian stress mereka, Ma!” kata Gareng.
“Kang Gareng, aku kira kilahmu terlalu berlebihan, Kang! Kami tidak sebodoh dan setolol itu.” seloroh Bima dengan nada agak meninggi.
“Kalau tidak bodoh dan tolol, kenapa kok mau menerima tawaran Duryadhana, Den?” sahut Gareng.
“Ini demi menjaga hubungan baik saja, Kang Gareng.” jawab Yudhistira. “Ada kalanya, untuk menjaga hubungan baik itu perlu kompromi Kang.”
“Hubungan baik macam apa, Den Puntadewa? Wong jelas-jelas tawaran itu memiliki tabiat yang buruk kok masih diladeni. Hubungan baik yang bagaimana?” sergah Gareng.
“Gareng… kamu nggak perlu ngotot gitu to Ngger…. Mereka ini sudah pada dewasa. Sudah pada ngerti mana yang baik dan yang buruk. Tinggal mereka mau milih yang bagaimana? Yang baik ya kita dukung, yang buruk ya tentunya harus diluruskan. Kalau memang mereka ingin menjaga hubungan baik dengan Kurawa, tentunya memang harus dilaksanakan. Tetapi, dengan cara-cara yang baik dan benar. Lah inilah, kekeliruan para putra Pandhu. Tidak meletakkan dasar kebenaran dan kebajikan dalam melanggengkan hubungan politik. Eh malah ikut-ikutan rusak. Lah wong sudah tahu yang namanya main dadu itu saru. Eh kok nrima begitu saja. Makanya Ngger Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, saya sebagai rakyat jelata cuma bisa berpesan pada kalian. Berpolitiklah dengan bijak dan bajik. Ora mung ketok apik ning ya kudu bener. Karena politik hanya bagian dari proses bukan sebuah produk. Kekuasaan itu juga proses bukan produk politik. Kalau dikatakan sebagai produk maka kekuasaan menjadi sesuatu yang purna, sesuatu yang sudah tidak bisa diowah-owah. Kekuasaan hanya akan mati suri dan tidak kreatif dalam menjawab zaman, Ngger…. Pemimpin itu tidak hanya wujud melainkan ia juga roh, semangat dalam mencipta dan mengkreasikan hidup dan tatanan kehidupan. Jadi pemimpin tidak cukup hanya bisa mengatur, tetapi juga harus bisa memberi tuntunan dan menuntun ke arah yang benar. Tidak hanya cukup bisa mengelola rakyat, tetapi juga harus bisa mengolah daya pikir, rasa, dan cipta demi sebuah karya. Tidak cukup hanya bekerja sebagai politisi, tetapi harus diwujudkan dalam karya besar.”

BIODATA PENGIRIM
Nama : Ribut Achwandi
Tempat Lahir : Pekalongan
Tanggal Lahir : 28 Agustus 1980
Alamat : Landungsari Gg. 19 RT. 02/RW. VI No. 28 Pekalongan
Kode Pos : 51129
No. Hp : 081575608325
Alamat email : kigeger@yahoo.com

Beri komentar