Home » Program » Spirit of Ramadhan » Kerja Dengan Hati Niscaya Anda Bahagia!

Kerja Dengan Hati Niscaya Anda Bahagia!

illustrasi

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Ali Imran, 3:159) dalil pembuka sekaligus penyegar imani sore itu (22/8) tepat di hari ke-12 ramadhan 1431 H, bersama ustad muda nan enerjik “soleh” dalam spirit of ramadhan program kerjasama trijaya dan DPU-DT yang hadir selama 1 bulan romadhon sebelum berbuka.

Ustad soleh pun memaparkan ke sub topiknya, Bukan rahasia umum lagi bila seseorang telah melakukan kerja keras dan optimal menengadahkan tangannya seraya memohon dalam hati agar Allah emudahkan dan melancarkan usahanya serta mengabulkan targetnya. Fenoma ini menggambarkan bahwa realitas hidup seseorang lebih ditentukan oleh kualitas pikiran dan hatinya ketimbang kerjanya.

Adanya hubungan antara ikhtiar yang tekun dengan hati yang tenang dalam bingkai zikrullah. Dan antara ketaatan beribadah dengan tingkat kesuksesan dan kebahagiaannya. Sementara itu, kita diingatkan bahwa banyak ibadah kita sia-sia dan hanya memberikan rasa lelah dan gerakan raga saja karena hati tak diajak.

TINDAKAN KITA SEBATAS KITA MEMANDANG DUNIA “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) , jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran, 3:139) Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan anda pun jadi kerdil. Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal yang penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pemikiran anda sendiri. Itulah kenapa kita diajarkan untuk berfikiran positif pada diri sendiri agar kita bisa melihat dunia lebih indah dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh dengan penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemaka apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negative terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri kita apa adanya. Dan dunia menampakan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilai-penilaian kita. Sesaat ditanya “titin” seorang penelpon bagaimana jika menjadi ustad dan di bayar (fee-nya) kecil apakah itu yang di maksud dengan kerja dengan hati, tersipu malu nan menahan tawa ustad soleh menangapi dengan bijak dan sesuai hati walau sangat menjurus pada ”dapur pribadinya” mengutip hadist nabi SAW ustad soleh mengungkapkan segala sesuatu yang di lakukan di jalan dakwah sebenarnya hati harus ditetapkan tidak mengharapkan apa pun kecuali ridhoonya allah , perasaan berat dan semisalnya akan lenyap seketika kita melakukan nya dengan hati dan ketaqwaan. Tegas ustad sekaligus menutup perbincangan sore itu yang semakin semangat karena tinggal 5 menit menanti buka puasa, samapai jumpa di topik lainnya. (Rifqi)

Beri komentar