Home » Program » Spirit of Ramadhan » I’tikaf

I’tikaf

Tidak terasa kita sudah memasuki 10 hari terakhir di Ramadhan tahun ini,semoga ibadah yang kita lakukan untuk Allah SWT maksimal. Seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW, berdiam diri di masjid di 10 hari terakhir di bulan ramadhan akan melengkapi ibadah kita.

Live dari Pavarotti room, Sahid Imara Hotel Palembang, Spirit of Ramadhan edisi 23 Agustus 2011 membahas tentang keutamaan i’tikaf dan keistimewaan lailatul qadr bersama Ustd. Mugiono Abu Afifah. “I’tikaf artinya berdiam diri di masjid dan dilakukan di 10 hari terakhir ramadhan. Mengapa masjid? karena di masjidlah semua kebaikan dan aktivitas ibadah dilakukan. Mengapa berdiam diri? karena dengan begitu semua ibadah kita bisa maksimal. Mulai dari Shalat, mengaji, tidur bangun lagi diisi dengan shalat, tadarusan begitu seterusnya.”

Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. “Yang membatalkan i’tikaf ada beberapa, diantaranya keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak serrta Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187.” tambah Ustd Mugiono.

Namun selama i’tikaf ada beberapa hal juga yang diperbolehkan, yaitu :keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid kemudian melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
Lalu Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya kemudian mandi dan berwudhu di masjid, serta membawa kasur untuk tidur di masjid.

Semoga dengan I’tikaf kita mendapatkan malam lailatul qadar, sejenak melupakan segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabb, serta didengarkan segala doa dan diampuni semua dosa. Amin Ya Rabballalamin (dinnherly)

Beri komentar