Home » Program » Tuesday Dialogue » Persoalan Harga Beras Yang Tak Pernah Tuntas

Persoalan Harga Beras Yang Tak Pernah Tuntas

Gudang bulog

Ketidak pastian akan ketersediaan bahan pangan produk dalam negeri, sering kali menimbulkan kekhawatiran. Kelangsungan ketersediaan hasil pertanian menjadi sangat penting karena menyangkut kebutuhan pokok sehari-hari seluruh rakyar negeri ini. Ketersediaan beras, gula, jagung, kedelai, buah, sayur-sayuran, hingga produk perkebunan tidak hanya menyangkut persoalan ekonomi, tetapi berdimensi lebih luas.

Hal itu karena sektor pertanian pada kenyataannya masih menjadi gantungan hidup sebagian besar rumah tangga di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan. Ini berarti, terguncangnya pengelolaan nasional sektor pertanian bisa berimbas pula terhadap ketersediaan lapangan kerja dan rawan pangan yang luas.

Persoalan stabilitas harga komoditi yang cenderung naik turun, sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meraih keuntungan. Harga beras di Tanah Air bisa saja tiba-tiba melonjak tanpa terkendali. Situasi ini mendorong pemerintah melalui Perusahaan Umum Badan Logistik (Perum Bulog) menggelar operasi pasar (OP) secara masif di seluruh Indonesia.

Namun, kegiatan OP beras murah yang digelar di sejumlah daerah dinilai tidak efektif. Alih-alih harga beras turun, justru banyak terjadi penyimpangan. Kejadian semacam ini memang disinyalir munculnya pedagang dan tengkulak yang mencari untung akibat dari tidak efektifnya operasi pasar.

Rendahnya kemampuan Bulog dalam menyerap beras petani dan membiarkan peran ini diambil para tengkulak, dianggap sebagai salah satu penyebab para pedangang beras bisa mempermainkan harga beras.

Centang perenangnya persoalan beras ini, menurut anggota DPRD Sumatera Selatan, Arudji Kartawinata, terjadi akibat pemerintah daerah tidak seragam dalam menyikapi bagaimana seharusnya menjalankankan kebijakan di bidang pertanian. Seharusnya semua pihak terkait mempunyai mindset yang sama dalam menangani persoalan ini. Persoalan fluktuasi harga beras harus diselesaikan secara tuntas. Berbagai kendala ditingkat petani, seperti persoalan permodalan, pupuk, bibit serta masalah pergudangan harus bisa dicarikan jalan keluar sehingga petani memiliki posisi tawar yang baik dalam menjual hasil panennya.

Indonesia sebagai negara agraris, sudah saatnya mampu mendefinisikan keinginan nasionalnya di bidang beras. Jika tidak, maka situasi seperti ini akan terulang terus di kemudian hari. Seperti pepatah bijak warisan nenek moyanng, jangan sampai bangsa ini seperti tikus yang mati di lumbung padi. (Dedi/Trijaya)

Beri komentar