Home » Serba-serbi » Mengungkap Pesona Upang Ceria, Awal Negeri Sang Raja?

Mengungkap Pesona Upang Ceria, Awal Negeri Sang Raja?

Potensial Dijadikan Desa Wisata

BANYUASIN – Desa Upang Ceria ternyata banyak menyimpan pesona wisata desa dan bisa menjadi aset potensi desa wisata di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan di masa akan datang. Desa yang terletak di Jembatan satu, Jalur 8, Muara Telang, Banyuasin ini hanya bisa ditempuh dengan speedboat dari Dermaga Ampera, Sungai Musi Kota Palembang.

Lama perjalanan hanya sekitar satu jam dari Kota Palembang dan bisa dilakukan PP (pulang pergi) dalam satu hari. Keberangkatan pagi pada pukul 09.00 WIB dari Dermaga Ampera dan pulang kembali pukul 14.00 WIB. Ongkos perjalanan PP sekitar Rp. 100.000,- perorang. Selama dalam perjalanan kita disuguhkan oleh keindahan Sungai Musi dan berbagai aktivitasnya yang bisa jadi objek foto yang menarik.

Selain keindahan persawahan desa yang bernuansa pantai Sungai Musi, di Upang Ceria konon ada Pulau Lebar Daun yang melegenda dan bersejarah di masa lampau. “Di Pulau tersebut ada dua batu penggal yang konon dulu untuk memenggal,”ujar Kepala Desa Upang Ceria Abdul Hamid.

Selain itu juga ada makam puyang Bidar dan konon itulah makam jawara bidar masa lampau. Sebelum berlomba bidar, banyak para jawara bidar yang ziarah terlebih dahulu di makam tersebut. “Pulau Lebar Daun juga disebut-sebut sebagai pulau persinggahan awal penduduk pendatang wilayah delta upang kala itu,”katanya.

Upang sendiri dituturkan dari kata Numpang, salah satunya di Pulau Lebar Daun tersebut. “Kini Lebar Daun yang diambil dari pohon nipah ini, tidak dihuni lagi dan penduduknya telah berpindah masuh ke wilayah daratan kedalam,”terang Pak Kades.

Sementara, dihimpun dari tulisan Jusfri Al-Palembani yang mengutip pendapat Kemas Ari,Spd (Dosen, Pengamat sejarah Palembang) menilai bahwa penduduk Palembang yang ada sekarang ini, adalah penduduk yang pindah dari daerah “Pulau Lebar Daun” seberang Upang Kabupaten Banyuasin.

Diperkirakan karena Pulau Lebar Daun/Negeri Lebar Daun ini telah sempit dan tidak memadai lagi sebagai ibukota kerajaan maka mereka pindah ke Palembang (Kota Sekarang) seperti terungkap dalam prasasti Kedukan Bukit, yang isinya menceritakan perpindahan Dapunta Hyang beserta prajurit dan penduduknya ke Palembang membuat wanua (perkampungan).

Sampai sekarang di daerah Tangga Buntung itu ada nama sungai yang bernama “Sungai Palembang” dan penduduk luar Palembang seperti Besemah menyebut Sungai Tatang dengan nama “Muare Pelimbangan”. Kemas Ari yang sempat mengunjungi Pulau Lebar Daun ini menemukan plang nama dan kuburan yang menyebutkan disini bermakam Raja Sriwijaya, Sri Maharaja Indrawarman.

Selain antara sejarah dan mitos, Desa Upang Ceria memiliki pesona hamparan sawah yang menggoda, tepat untuk bisa menenangkan diri dari aktivitas perkotaan. “Saya senang bisa berkunjung ke Upang Ceria dan desa ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi desa wisata,”kata Miss Internet Sumsel 2017 Anggun Prisma.

Menurutnya, syarat itu diantaranya bisa diakses dengan mudah dari perkotaan hanya satu jam dari Kota Palembang. “Diperjalanan saja banyak hal yang bisa dinikmati seperti keindahan sungai Musi,”katanya.

“Sesampai di desa kita bisa mengunjungi Pulau Lebar Daun yang penuh legenda, persawahan warga pada saat musim tanam ataupun panen dan menikmati dogan dari pohonnya,”terangnya.

Dan uniknya warga desa ini memiliki produk olahan kerajinan tangan dari limbah atau sampah rumah tangga seperti bungkus shampo, kopi dan botol minuman untuk dibuat jadi aneka ragam pajangan dan tas. “Hanya saja sampai saat ini penjualan hanya sekitar desa saja belum menjadi produk andalan desa,”ungkap Penyiar Elshinta ini.

Kemasan dan bagaimana mengelola desa ini menjadi desa wisata menjadi pekerjaan rumah yang menantang dimasa akan datang. Saat ini BUMD Upang Ceria juga sudah terbentuk namun belum termaksimalkan untuk mengembangkan desa ini sebagai desa destinasi wisata. (FK)

Beri komentar